Selasa, 15 Juli 2008

Ignatius: Pendosa dan Pendoa

Mungkin bagi sebagian orang jaman ini, kisah santo-santa hampir sama seperti kisah-kisah dongeng pengantar tidur anak-anak. Kisah-kisah ini mungkin dianggap"too good to be true", ideal, jauh dari realitas nyata, bahkan omong kosong. Ironisnya, di sisi lain, kita melihat pula bahwa dewasa ini buku-buku self-help ataupun cerita-cerita inspiratif, baik itu dalam konteks psikologi, manajemen, bisnis, sebagian besar merupakan sebuah "story-telling" dari kisah sukses jatuh bangun seseorang yang berhasil, tokoh besar dalam bidangnya, ataupun juga perusahaan-perusahaan terkemuka. Kita masih ingat beberapa tahun lalu orang begitu banyak menggemari "chicken soup for the soul" dengan berbagai macam edisinya. Di tanah air sendiri sampai detik ini semakin banyak buku-buku yang "bercerita" tentang pengalaman-pengalaman dalam berbagai bidang hidup. Di bidang motivasional, bisnis dan manajemen, kita bisa melihat pula begitu banyak buku misalnya tentang "Starbucks" begitu laris manis dengan penulis yang berbeda-beda pula.

Dalam menghidupi penghayatan iman katolik kita, sebenarnya kita perlu bersyukur bahwa kita bisa banyak belajar dari kisah santo-santa dalam Gereja Katolik. Kita bisa belajar bagaimana para santo dan santa berjuang membangun relasi personalnya dengan Tuhan, bagaimana mereka berjuang menghadapi kelemahan pribadi, kedosaan dan ambisi-ambisi pribadi yang tidak selalu luhur. Dinamika hidup mereka dalam menemukan Tuhan dan setia pada iman bisa menjadi inspirasi yang baik bagi setiap orang katolik.

Kisah hidup Santo Ignatius Loyola bagi saya pribadi merupakan salah satu kisah seorang Santo yang sangat "manusiawi". Kalau kita membaca dari dekat apa yang menjadi dinamika dan perjuangan hidup Ignatius Loyola, dalam banyak sisi kita bisa berkaca tentang apa yang bergejolak dalam diri kita. Tegangan antara aktualisasi diri, ambisi pribadi, nama baik, kemasyuran dengan pencarian diri, spiritualitas, serta makna dan tujuan hidup merupakan hal yang sangat nyata dalam kisah Santo yang satu ini. Dari kisah hidupnya, kita bisa merenungkan perspektif hidup kita sebagai orang beriman kristiani, sebagaimana Ignatius sendiri belajar menemukan Tuhan dan berjuang untuk memberikan dan membaktikan diri kepada Tuhan sendiri.

Sebagian orang lebih terkesan dengan Ignatius karena dia adalah seorang bangsawan spanyol, atau lebih sering dikenal sebagai sosok "prajurit" ataupun ksatria. Kisah hidupnya yang menjadi awal dimana Tuhan menyapa dirinya, yaitu pertempuran di Pamplona, merupakan kisah Ignatius yang heroik sekaligus tragis, yang akhirnya menjungkirbalikkan logika dan perspektif hidupnya. Lebih jauh, sebenarnya kata "pendosa dan pendoa" itu sangatlah cocok diberikan kepada Ignatius ini. Dari kisahnya, kita bisa melihat bahwa Ignatius sendiri dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya adalah pendosa, bukan sosok yang sempurna, penuh dengan ambisi, ketakutan dan egoisme, sosok yang idealis. Namun dalam perjalanan hidupnya lebih jauh kita bisa melihat sosok Ignatius yang adalah seorang mistikus, pendoa, pemimpin rohani dan juga teman yang baik serta rendah hati. Transformasi diri Ignatius dari sosok pendosa menjadi seorang pendoa ulung telah meninggalkan sebuah warisan yang berharga untuk Gereja Katolik. Lewat Ignatius-lah sebuah spiritualitas untuk menemukan Tuhan di dalam segala sesuatu, dalam realitas kongkrit hidup kita sehari-hari menjadi sebuah bentuk spiritualitas yang sangat pokok dalam pertumbuhan Gereja dan umat beriman. Warisan Ignatius lainnya adalah "Pembedaan Roh" yang tentunya menjadi alat bantu yang jitu dalam membangun dan menghayati iman katolik dan hidup rohani kita.

Tanggal 31 Juli mendatang adalah Pesta Santo Ignatius Loyola. Saya mengajak anda selama 9 hari dari tanggal 22 Juli hingga 30 Juli merenungkan kisah hidup Santo Ignatius Loyola di blog ini sekaligus berdoa Novena Santo Ignatius Loyola. Pada 9 hari tersebut akan disajikan cuplikan kisah hidup Santo Ignatius dan juga renungan singkat yang bisa anda pakai khususnya untuk membantu pelaksanaan novena anda secara pribadi. Teks novena sudah dibuat, dan akan dimuat di blog ini. Bila anda punya intensi-intensi pribadi dan ingin anda sampaikan lewat perantaraan doa Bapa Ignatius, maka saya kira novena ini bisa sangat membantu anda.

Silakan sampaikan kepada rekan ataupun komunitas anda tentang novena Santo Ignatius Loyola di blog ini.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Sowing the Seeds for Ministry : Five ways to reach young Catholics

by Tim Muldoon
America Magazine

-------------------------------------------------

Artikel berikut ini saya sajikan di blog ini karena saya nilai isinya begitu menarik khususnya berkaitan dengan pembinaan kaum muda katolik dewasa ini, dan tentunya sekaligus "menyambut" World Youth Day 2008 di Sydney.

Tim Muldoon dengan lugas menyebutkan bahwa pembinaan ka
um muda katolik harus memperhatikan 5C: community, cooperation, communication, catechesis, dan consultation. Perlu diakui bahwa pembinaan generasi muda katolik merupakan sebuah usaha yang multikompleks mengingat generasi muda katolik sekarang ini terbentang luas dari mereka yang masih duduk di sekolah menengah atas hingga kaum profesional yang belum menikah usia 30-an. Menarik juga untuk disimak dalam soal communication yang menyebutkan bahwa kehadiran Gereja secara online itu menjadi mutlak dalam pembinaan kaum muda, karena bagi orang muda, sesuatu yang tidak bisa ditemukan secara online dianggap tidak eksis. Sebagian besar kaum muda mengeksplorasi keingintahuan mereka terhadap spiritualitas lewat internet. Maka tentu saja kehadiran Gereja menjadi sebuah bentuk komunikasi paling kongkrit dan sangat urgen. Dari komunikasi macam ini, pembinaan seperti katekese, informasi dan juga pembangunan komunitas bisa dirintis.

Kemampuan kita, Gereja, untuk berdialog dan memahami kaum muda sebenarnya menjadi sebuah titik penting dalam konteks pendam
pingan ini.

Selamat Membaca!
----------------------------------------

On a Tuesday Night in mid-semester most Boston College students are poring over books or sitting in front of computer screens writing papers. Yet roughly 150 students—in brown T-shirts emblazoned with the words “What would Jesus brew?”—have made their way to a cafe for a monthly series known as Agape Latte. This evening of serious yet informal theological reflection will generate further conversations in residence halls, dining areas and cyberspace. (The series resembles the successful Theology on Tap series launched by the Archdiocese of Chicago 25 years ago.)

In venues like this, outside of parish life and weekly Mass, some young adult Catholics are developing an understanding and practice of the faith. What appears to be bad news—that young adult Catholics regularly absent themselves from the pews—masks a sign of hope, at least for some. These Catholics are taking seriously their spiritual lives and are asking thoughtful questions about the church and its teachings, even though they lack the supportive Catholic subcultures of family and neighborhood that formed earlier generations in the faith.

Ministry to young adult Catholics is complex today, given delayed marriage (median age 28, compared with 23 a generation ago), geographic mobility (mostly because of job and career changes) and immersion in a pluralist culture. The majority of young Catholics do not attend Mass weekly, and many feel no strong connection to the church through parish life. Some have grown up with negative or hostile images of the church.

In speaking with leaders in young adult ministry, however, I have heard expressions of great enthusiasm and hope. These leaders say that young adults come to the church with almost none of the guilt that pervaded the faith of earlier generations; instead, they come seeking community and authenticity. How can parishes nourish such young adults who can become leaven among their peers? Young adult ministers employ five elements, the five C’s: community, communication, cooperation, consultation and catechesis.

Community

Many young adult Catholics have experienced displacement and are struggling to find authentic community. Take first-generation immigrants, for example, a majority of whom are Hispanic. Currently, many dioceses are ill equipped to address their pastoral needs for lack of bilingual ministers and adequate programming. According to the Center for Applied Research in the Apostolate at Georgetown University, 44 percent of the Catholic young adult population are Hispanic. The number includes not only recent immigrants, but second- and third-generation young adults who have assimilated to U.S. culture. Basic differences of language and culture, says JorgĂ© Rivera, the coordinator for Hispanic young adult ministry in the Archdiocese of Chicago, make it difficult to keep together diverse communities of Hispanic young adults, let alone form community with the larger population of young adults in the archdiocese. Nevertheless, Loyola University Chicago’s Institute of Pastoral Studies has succeeded in forming new young adult leaders. And around the country thousands of young people have attended encuentros (national gatherings of Hispanic Catholics and their leaders, sponsored by the U.S. Catholic bishops since 1972). There they have seen firsthand that they are not alone in seeking ways to negotiate faith and culture.

Other young adults have experienced displacement, often through college or professional life. They too desire a community the workplace cannot provide. One successful element of Theology on Tap that can be replicated in other programs is the way it offers young adults an opportunity to engage in the kind of conversations that do not take place in ordinary social situations. Young adulthood is a time for raising profoundly spiritual questions: about vocation, relationships and the meaning of life. A faith community offers young people a place for growth and maturation. Denise Pressley of the Diocese of Pensacola-Tallahassee describes how a recent young adult conference drew together participants from different backgrounds, including the military, who themselves constitute something of a hidden subgroup among young adults.

It is not easy to foster community among young adults, because displacement often means transience and upheaval; job or career changes, weddings and the birth of children change the dynamics within communities. And there are significant differences between the pastoral needs of 30-somethings and those of college students, though both groups can be considered young adults. One creative way to bridge these differences can be seen in the Archdiocese of Los Angeles. The end-of-the-summer Theology on Tap gathering of mainly late 20- and early 30-somethings was held on a college campus as a way of welcoming the late teen and early 20-something students into the young adult Catholic community.

At the root of young adults’ desire for community is, I think, a basic resistance to the many ways that our culture extols the individual. Since a need for friendship and love is a good and holy spiritual desire, one key to ministry is to help young adults cultivate authentic relationships among themselves and with others in the Catholic community. This can be a challenge, because division sometimes mars relations among Catholics. The very presence of young adults ought to remind us that Christian community is rooted in the joy the disciples experienced at encountering the risen Christ. As one young adult put it, “It’s not all the gray hair that scares us, it’s the bitterness and apathy.”

Cooperation

Sustaining relationships among young adults can be difficult especially for small communities, where the departure of one or two key people for a new job elsewhere can badly affect a faith-sharing group. To address the problem, it may be helpful to take advantage of the resources of a large community rather than rely solely on a small local one. The Archdiocese of Detroit has developed a plan for cooperation among young adult ministry and campus ministry in eight regions, each of which includes one to five vicariates. Instead of each parish or vicariate securing its own personnel and programs, each region pools its parish resources to fund staff positions in young adult and campus ministry. The result is greater order and greater likelihood that each region can grow enough young adult leaders to carry forward the ministry, even when individuals move on.

When it comes to programming, Krista Bajoka, director of campus and young adult ministry in Detroit, suggests hosting different kinds of events—liturgical, social and service—because some young adults do not yet have a connection to the church. She recommends creating young-adult-only events to bring them in and then finding ways to involve them in the life of the parish, larger church and society. The model works because the archdiocese has committed funding and organizational leadership, while at the same time it encourages local parishes to work together.

Communication

An online presence is essential: for many young adults, if something is not online it doesn’t exist. Internet communication addresses the issue of displacement: if young people are displaced, they need to know where to go to church. A parish’s Web site—its appearance and content—indicates quickly to young people whether this parish is likely to be a place where they will be nourished.

Young people use the Internet to explore spirituality. The success of such sites as beliefnet.com and BustedHalo.com (a Catholic, Paulist-sponsored site that receives 15,000 to 20,000 hits per month) shows the Web’s potential for evangelization. The Irish Jesuits operate sacredspace.ie, and the British Jesuits offer podcasts on pray-as-you-go.org. Currently, religious orders and universities host the best Catholic sites, but local parishes and dioceses can serve local young adults by providing links. And they can develop virtual communities to complement real ones through online social networking sites like Facebook.com.


The Catholic presence for young adults on the Internet is modest. Many diocesan and parish sites give good information, but use too many words and lack technological sophistication. With its vast repertoire of liturgical symbols, history, literature and art, the Catholic community can have a better presence online as a way of attracting young adults. Tapping the expertise of young adults who work in the communications media has a double benefit: it gives them a way of serving the local community, and it enhances parish outreach.

Consultation

The church must cultivate young adult leaders ready to minister to their peers—as small group prayer leaders, retreat leaders, service project coordinators, liturgical ministers and so on. The resources devoted to forming these leaders in faith (like appropriate catechesis, guided reading in theology and experiences of prayer) will yield fruit in the long run for both the local parish and the church.

The challenge is to develop a long-term plan for rotating leadership, similar to what happens in campus ministries, where the entire student body changes every four years. Dioceses, parishes and colleges/universities must establish effective relationships in order to develop such leadership. Students involved in campus ministry often bring ministerial gifts to their local parish after they graduate. At Boston College a parish-intern program sends interested undergraduates to work in various parish ministries. In the United States, only 3 percent of Catholic young adults are enrolled at Catholic colleges and universities, but even a fraction of this group could, with the right mentoring, play a vital and necessary part in successful young adult ministry.

Nowhere is the need for consultation and apprenticeship clearer than in the Latino community, where leaders could then minister to their peers. If the church is to minister to young adults whose primary language is not English and whose culture differs from that of most young adult ministers today, resources will have to be put toward the development of peer leadership. No matter the specific group, ministers and educators ought to consult with young adults themselves to gain new perspectives on what it is like to choose to be Catholic and to learn what gifts young adults can bring to the the local parish.

Catechesis


By catechesis I mean a range of activities that foster growth in the faith—from first contact with Catholic teaching to deepening understanding, properly called “mystagogy.” Young adults today have grown up during a catechetical pendulum swing. The minister’s challenge is to help them find the right balance. Pre-Vatican II cate-chesis emphasized rote learning of the catechism, often to the exclusion of affective learning or deepening of an authentic spiritual life. Early post-Vatican II catechesis emphasized affective learning, often to the exclusion of basic knowledge of history, traditional terminology and symbols. In more than 10 years of college teaching, I have found that as a rule I cannot expect Catholic students to know many of the basic elements of Catholic tradition. Many have never read the Bible, and few can articulate the meaning of their faith at a level comparable to what is expected of a college student in other areas.

Many new programs and publications are available to help young adults cultivate a spiritual life within the church. One of the most successful is Charis Ministries, founded in 2000 by Michael Sparough, S.J., of the Chicago Province of the Jesuits; it introduces young adults to Ignatian spirituality. An outline for their retreats—honored as models for ministry to young adults by the U.S. bishops—is being published this summer as a series titled Grace Notes. Another program, called Spirit and Truth, has chapters around the country dedicated to the practice of eucharistic adoration.

Hundreds of local, national and international Web sites are dedicated to helping young people grow in knowledge of their faith. While many are quite good, they lack basic and vital person-to-person mentoring in faith. Ministry to young adults ought to include coaching in the basics of how to be Catholic: from the use of language, to prayer, to the application of moral teaching, to reading the Bible and other religious texts. There is a vast superstructure of Catholic belief and practice to which many young adults have never been adequately introduced. As a result, many find themselves with a fragmentary or immature understanding of the faith. Mentors could show them, in a nonjudgmental way, what it means to be Catholic. And these mentors could come from the ranks of young adults themselves, if parishes and dioceses would assist them to become leaders.

Young adults typically do not occupy the pews as frequently as pastors and many other faithful would like. Yet their absence need not sever them completely from the parish. Parishes and dioceses can help young adults negotiate the complexities of their faith lives and understand the wisdom of the church’s traditions. Already, many young adults are interested in spiritual growth and seek it on their own. They respond to heartfelt invitations from Catholics who care about them. Today, church leaders are inviting young adults in, but we must do better. Our challenge is to follow the advice of St. Benedict: to listen to the young, “because the Lord often reveals to the younger what is best.” In this age of new models of parish leadership and cooperation between clergy and laity, perhaps the most exciting area of growth will be among young adults who take up leadership and mentoring roles in local communities. Jesus long ago described the scene: just a few laborers are facing a harvest that is ready and plentiful.

Tim Muldoon, a theologian, is the author of Seeds of Hope: Young Adults and the Catholic Church in the United States (Paulist Press, 2008). He serves in the Office for University Mission and Ministry at Boston College, and was the first director of the college’s Church in the 21st Century Center.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Kamis, 10 Juli 2008

Seorang Jesuit Ditunjuk Sebagai Sekretaris Kongregasi Doktrin dan Iman yang baru

Paus Benediktus XVI mengangkat Pater Luis Ladaria, SJ menjadi Sekretaris Kongregasi Doktrin dan Iman menggantikan Uskup Agung Angelo Amato, SDB. Pater Luis Ladaria, SJ sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jendral Komisi Teologi Internasional sejak tahun 2004. Pater Ladaria adalah pengajar teologi di Universitas Gregoriana sejak tahun 1984 dan menjadi wakil rektor dari tahun 1986-1994.
Pater Ladaria masuk Serikat Jesus pada tahun 1966, setelah sebelumnya menyelesaikan kuliah dalam bidang hukum dari Universitas Madrid. Setelah menyelesaikan kuliah filsafat dan teologi di Madrid dan Frankfurt, beliau ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1973. Beliau menyelesaikan studi doktorat dalam bidang teologi di Universitas Gregoriana Roma tahun 1975. Dengan penunjukan ini, maka Pater Luis Ladaria, SJ akan diangkat pula menjadi seorang Uskup Agung.

Penunjukan seorang Jesuit pada posisi sangat penting di Vatikan lebih-lebih dalam Kongregasi Doktrin dan Iman di satu sisi bisa memperlihatkan kepercayaan Paus Benediktus XVI kepada Jesuit yang begitu besar, dan mungkin ini untuk pertama kalinya seorang Jesuit ditunjuk untuk memegang peranan sangat penting dalam Kongregasi ini.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Rabu, 11 Juni 2008

Pendidikan Ignasian di Kolese Jesuit dan Tantangannya (hanya sebuah catatan ringan)

Berbicara soal karya dan keterlibatan Jesuit di dalam pendidikan secara khusus di kolese-kolese SJ, saya selalu teringat akan ungkapan Pater Pedro Ribadeneira, SJ dalam suratnya kepada Raja Philip II yang menerangkan tentang tujuan karya pendidikan Jesuit, dengan ekspresi yang sangat menarik: "Institutio Puerorum, Reformatio Mundi" yang artinya kurang lebih "pendidikan yang baik bagi kaum muda merupakan usaha baik untuk mengubah dunia".

Mengubah dunia? mereformasi dunia? mungkin akan terdengar agak tendensius bila dalam skala mikro kita menempatkan pendidikan Jesuit atau dalam hal ini pendidikan di kolese-kolese Jesuit sebagai usaha untuk mereformasi dunia, tapi dalam bahasa dan perspektif Latihan Rohani Santo Ignatius, ungkapan ini merupakan sebuah ungkapan yang sangat bisa dipahami.

Kolese menjadi sebuah lembaga pendidikan Jesuit yang khas bukan pertama-tama hanya soal excellence dalam arti keunggulan akademis tetapi sejauh mana pendidikan kolese sungguh bisa menggerakkan dan mengajak banyak orang yang belajar di dalamnya untuk melihat realitas dirinya dan juga realitas lingkungan sekitarnya (masyarakat, budaya, keadilan dan dialog antar umat beriman) dalam perspektif yang lebih luas dan bertanggungjawab. Di sinilah letak penting dan ciri khas sebuah institusi pendidikan bisa disebut sebagai institusi pendidikan Jesuit. Kolese Jesuit tidak menjadi lebih Jesuit hanya karena disitu ada Jesuit yang bekerja di dalamnya tetapi sejauh mana nilai-nilai dan semangat spiritualitas Ignasian dan Latihan Rohani sungguh-sungguh bisa diterjemahkan dan menjadi inspirasi dalam setiap kegiatan yang ada di dalamnya. Pater Jendral Jesuit Adolfo Nicolas, SJ mengatakan dengan sangat tajam : "In education, we make people different...... Our Schools are not competitors for top schools, but to make people who look differently at reality and at themselves"

Merupakan sebuah fenomena menarik bahwa di banyak kolese Jesuit di Indonesia dewasa ini baik pada guru dan murid kolese mulai akrab dengan banyak istilah dan perspektif pendidikan dan spiritualitas Ignasian. Di bulan-bulan pertama terlibat di Kolese Loyola Semarang, saya pribadi melihat bahwa memang pengenalan nilai dan semangat Ignasian ini merupakan sebuah usaha untuk penanaman nilai atau merupakan sebuah pendekatan pendidikan yang berorientasi nilai. Banyak siswa dan guru yang tahu apa itu "magis", "ad maiorem dei gloriam", "discretio". Menarik pula untuk memperhatikan bahwa misalnya saja untuk proses inisiasi/orientasi siswa baru tahun ajaran mendatang ini Kolese Loyola mengambil tema "discretio". Tentunya ini sebuah langkah maju bahwa dalam awal-awal masa inisiasi, siswa baru sudah mendapat tawaran untuk mengenal dan mendalami nilai-nilai Ignasian yang sangat relevan lebih-lebih dalam masa remaja dimana soal mengambil keputusan, menimbang-nimbang dan berpendapat secara jujur dan tulus merupakan sebuah isu penting dalam dinamika mereka. Tim guru dan siswa (orator) pun mempersiapkan dinamika kegiatan yang berbasis pada tema besar ini.

Namun demikian, pendidikan Ignasian model kolese-kolese Jesuit ini bukannya tanpa tantangan. Dari pertemuan dan interaksi saya yang baru beberapa bulan ini dengan banyak orang seperti orangtua murid, guru-guru, alumni, karyawan, warga sekitar Kolese Loyola, mantan orangtua murid seringkali saya menangkap bahwa konsep pendidikan acapkali dipahami secara berbeda. Atas nama kompetisi seringkali banyak orangtua mengharapkan kolese Jesuit seperti Loyola lebih mengedepankan excellence dibandingkan sisi lain dari pendidikan Ignasian. Tidak sedikit orangtua siswa yang senang bila kolese Jesuit selalu ikut lomba sana-sini dan apalagi bila anaknya selalu berpartisipasi. Yang lain mengukur kesuksesan sekolah Jesuit hanya dari berapa yang diterima di Universitas tertentu di luar negeri. Dari pihak siswa, rasanya soal pendidikan nilai ini hanya kandas sampai di level kognitif. Berapa banyak siswa Loyola yang mencontek? berapa yang benar-benar mengerjakan PR sendiri? Berapa yang lebih sering bicara jujur? Dari mini-survey yang saya buat, data mentah yang ada cenderung untuk mendeskripsikan sebuah kenyataan yang kurang menggembirakan. Tidak sedikit siswa yang berpikir soal nilai yang baik dan bukan bagaimana cara meraihnya. Slogan "Competence-Conscience-Compassion" agaknya menjadi slogan kosong dan ompong di tengah realitas mentalitas "jalan pintas" dan "busuk" (koruptif) dalam berbagai macam derivasi dan jenisnya di kolese Jesuit. Di sisi lain pula, tidak jarang pola-pola pendidikan tradisional ataupun konservatif masih dipertahankan dan punya "habitat bagus" di dalam dinamika pendidikan di kolese Jesuit. Memprihatinkan bila tentunya mentalitas militerisme, budaya kekerasan, balas dendam masih mewarnai hati dan budi siswa-siswi kolese. Suatu saat saya pernah mendengar ungkapan: "frater, saya kecewa bahwa dulu waktu masa orientasi di jaman saya tidak lagi banyak pendekatan fisik dan kekerasan". Ternyata, tidak sedikit siswa kolese yang bangga bila pernah dibentak-bentak dan disuruh-suruh secara konyol dan dalam lingkaran kekerasan. Tidak sedikit juga yang tanpa sadar mentradisikan ritual dan iklim "kekonyolan" sebagai sebuah proses inisiasi.

Pertanyaannya: sejauh mana pendidikan nilai dan juga pendidikan Ignasian itu bisa menjadi efektif? ataukah realitas yang ada ini sebenarnya harus dibaca sebagai sebuah proses yang menunjukkan pendidikan nilai itu sebenarnya merupakan sebuah proses panjang, dan masa-masa di kolese merupakan saat yang tepat untuk memulainya dan entah kapan kelak akan berbuah.

Saya belum bisa menjawabnya......mungkin cara menjawabnya adalah dengan tetap setia berjalan bersama mereka, menemani dan mendengarkan mereka secara tulus dan tekun.....

There is always HOPE........


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Where is God for You?

Dimanakah Tuhan anda temukan dalam hidup anda setiap hari?

Mungkin benar kalau dikatakan bahwa kualitas hidup kita itu banyak ditentukan oleh sejauh mana kedalaman hidup itu kita alami secara nyata dalam realitas harian kita: sejauh mana nilai, keutamaan dan juga kemanusiaan kita sungguh kita sadari sebagai sebuah bagian yang tak terpisahkan dari hidup. Soalnya adalah bahwa rutinitas hidup, kesibukan dan dinamika relasi hidup kita terkadang menumpulkan kepekaan kita akan hal-hal ini. Sisi spiritualitas semakin terpinggirkan sebagai sisi ritual dan kebiasaan belaka, tetapi di sisi lain banyak orang sekarang ini semakin merindukan kedalaman-kedalaman hidup, mencari nilai hidup dan kebahagiaan sejati, tetapi tidak tahu bagaimana harus mencarinya.

Simaklah video clip berikut ini dari www.bustedhalo.com , sebuah media online untuk kaum muda, yang mau mengajak kita merenung bagaimana kita menemukan dan berkomunikasi dengan Tuhan dalam hidup harian.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Sabtu, 07 Juni 2008

PROVINSIAL SERIKAT JESUS INDONESIA YANG BARU

Dalam suratnya tertanggal 5 Juni 2008, Pater Jenderal Adolfo Nicolas, SJ telah menunjuk Pater Robertus Bellarminus Riyo Mursanto, SJ sebagai PROVINSIAL SERIKAT JESUS PROVINSI INDONESIA.

Pater RB. Riyo Mursanto, SJ saat ini menjabat sebagai rektor komunitas Jesuit di Kolese Loyola Semarang dan sekaligus menjadi Ketua Yayasan Loyola. Beliau merupakan salah satu Jesuit Indonesia yang berpengalaman dan kompeten dalam bidang pendidikan menengah, dan banyak terlibat dalam pengelolaan sekolah-sekolah Jesuit. Beliau pernah bertugas juga di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Saat ini selain terlibat aktif di Loyola, beliau juga menjabat sebagai Direktur PIKA dan Ketua Yayasan Karya Bhakti (ATMI Solo) serta Sekretaris bidang Pendidikan Menengah untuk Serikat Jesus di Kawasan Asia Timur dan Oceania.

Selamat bertugas kepada Pater Riyo atas tugas dan pelayanan yang baru ini.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Cura Personalis dan Pertanggungjawaban Batin dalam Tradisi Serikat dan Latihan Rohani

PENGANTAR

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ada dua dokumen serikat yang bagi saya amat penting untuk dicermati dalam kaitan dengan hidup me-yesuit ataupun spiritualitas Jesuit. Dua dokumen ini adalah surat/tulisan Pater Jendral yaitu soal “Pertanggungjawaban Batin” dan “Cura Personalis”.

Mengapa ini saya anggap penting? Tidak lain karena 2 dokumen ini berbicara soal 2 pilar penting yang saling berhubungan erat dalam spiritualitas Jesuit dalam berbagai dimensi.

Dalam suratnya kepada Major Superiors 21 Februari 2005, Pater Jendral kembali mengingatkan pentingnya “pertanggungjawaban batin” dalam dinamika hidup Serikat Yesus. Surat Pater Jendral ini muncul didorong atas rekomendasi yang dihasilkan kongregasi procurator tahun 2003 yang menyebutkan bahwa tradisi pertanggungjawaban batin yang ada dalam serikat ternyata tidak memberi buah sebagaimana yang diharapkan oleh Santo Ignatius. Dirasakan adanya kecenderungan untuk menganggap tradisi ini sebagai sebuah hal rutin, kewajiban dan formalitas seperti komunikasi antara pimpinan dan anak buah, dianggap “mengganggu privacy” atau menjadi hal yang memalukan ketika harus melakukannya di hadapan pembesar. Dalam dokumen ini Pater Jendral kembali menekankan bahwa tradisi pertanggungjawaban batin merupakan bagian mendasar dari spiritualitas Jesuit dan menjadi titik pijak dinamika hidup kejesuitan kita, baik hidup doa, pribadi maupun kerasulan.

Dokumen kedua adalah “Cura Personalis”. Tulisan Pater Jendral tertanggal 15 Januari 2007 ini memberi penekanan pada dasar dan konteks “cura personalis” dalam spiritualitas Ignasian dan Jesuit. Pater Jendral melihat bahwa cura personalis harus selalu dipandang dalam konteks antara tuntutan kerasulan, semangat magis dan juga hidup rohani/spiritualitas Jesuit. Dalam konteks inilah cura personalis mendapat pemahamannya secara relevan dan mendalam. Pater Jendral pun menggarisbawahi hubungan dan rasa percaya antara superior dengan anggota serikat yang sangat penting dalam cura personalis.

Tentunya, menjadi sangat menarik bagi kita untuk melihat bersama bagaimana kedua dokumen ini menjadi relevan dan actual dalam hidup keyesuitan kita.

Cura Personalis

Pembicaraan tentang cura personalis dalam konteks apapun tentunya tidak dapat dilepaskan dari dinamika Latihan Rohani. Hanya dalam terang Latihan Rohanilah setiap Jesuit akan dapat menimba makna, semangat dan hakikat sesungguhnya dari cura personalis ini. Pater Jendral Kolvenbach dalam tulisannya tentang cura personalis menyebutkan bahwa semangat dan jiwa cura personalis harus selalu digali dan diinspirasikan dari Latihan Rohani no. 22 :

“agar dapat terjalin kerjasama yang lebih baik antara yang memberi latihan dan yang terlatih serta lebih bermanfaat bagi kedua belah pihak, perlu lebih dulu berpedoman bahwa setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkannya. Jika tak dapat dimengerti, yang menyatakan hendaklah ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah hendaklah dibetulkan dengan cinta kasih; dan jika belum cukup hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai supaya sampai pada pemahaman yang benar dan dengan demikian dijauhkan dari segala kesalahan”

Tentunya LR.22 ini berbasis pada pengalaman Ignatius sendiri yang mengalami bahwa dalam pejiarahan spiritualnya seseorang ternyata membutuhkan pendampingan dari orang lain, pun bila disadari bahwa hakikat pejiarahan dan dinamika hidup rohani merupakan sesuatu yang sangat personal sekalipun. Lebih jauh lagi, bila kita meneliti apa yang ada dalam annotasi latihan rohani, kita akan semakin menemukan bahwa, walaupun menurut Ignatius pendampingan ini dirasakan diperlukan, beliau menekankan dengan jelas dan tegas agar mereka yang memberikan latihan atau mereka yang mendampingi, harus memiliki sikap hormat kepada yang didampingi, tidak bertele-tele, dan sabar. Dalam tradisi Ignatian disebutkan dengan jelas oleh Pater Jendral, bahwa cura personalis bukanlah sebuah tindakan untuk memberi paham-paham baru, mengkader ataupun mengindoktrinasi ataupun menyampaikan ide-ide pribadi kepada mereka yang didampingi tetapi merupakan sebuah tawaran akan permenungan misteri hidup Kristus kepada orang yang didampingi sehingga mereka bisa merengkuhnya dalam konteks hidup dan pribadi masing-masing.

Ini berarti bahwa dalam cura personalis, Santo Ignatius sungguh menekakan bahwa pihak yang didampingi haruslah tetap memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih secara bebas dengan cinta kasih dan kemurahan hati atas segala dinamika pejiarahan batin yang dialaminya lewat Latihan Rohani. Mereka yang didampingi perlu dengan terbuka bercerita akan gerakan roh, kecenderungan dan pemikiran yang dialami dalam pejiarahan rohaninya, dan mereka yang mendampingi penting untuk bertanya, meneguhkan ataupun memberikan bantuan lewat spiritual discernment agar gerakan-gerakan batin dan roh yang dialami dapat diteliti dengan seksama demi mencari kehendak Tuhan sendiri. Di sisi lain, mereka yang memberikan cura personalis harus tetap dengan rasa hormat mendampingi dan menghargai pengalaman rohani yang dialami pihak lain, dan dengan rendah hati dan sabar mencoba memahami pengalaman tersebut, membetulkan pemahaman yang keliru supaya pihak yang didampingi dijauhkan dari kesalahan dan ancaman dosa. Mereka yang mendampingi tidak akan bisa memberikan cura personalis apabila yang didampingi tidak mau terbuka untuk menceritakan apa yang dialami, kecenderungan, gerak roh ataupun godaan-godaan yang ada.

Dalam semangat cura personalis yang demikian ini maka akan sangat tepat sekali bila disimpulkan bahwa cura personalis hanya akan bisa berlangsung dan terjadi secara positif dan benar bila berada dalam iklim saling percaya satu sama lain (mutual trust). Pater Kolvenbach dalam ungkapannya yang khas selalu menyebutkan “a trust which is always difficult to win, always easy to lose”. Ini berarti bahwa cura personalis akan berbuah subur bila kedua belah pihak saling terbuka dan berkomunikasi secara otentik satu sama lain atas dasar kepercayaan yang matang. Ignatius selalu menekankan bahwa dibalik semua ini semangat untuk mau mendengarkan dan lebih mau memahami daripada mempersalahkan serta kehendak yang baik harus menjadi dasar yang kokoh dalam cura personalis (LR.22).

Secara mendasar, cura personalis sebenarnya merupakan sebuah cara bertindak bagi setiap Jesuit dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Lebih jauh lagi ini berarti bahwa relasi terbuka dan saling percaya yang terjalin di dalam cura personalis sebenarnya bukanlah sekedar sebuah relasi yang timbal balik dan komunikatif tetapi merupakan sebuah relasi yang berada dalam sebuah keinginan dan cita-cita luhur untuk mencari kehendak Tuhan dan berjiarah bersamaNya. Secara ringkas bisa disebutkan bahwa inti dari cura personalis adalah bantuan, pendampingan dari pribadi ke pribadi sehingga dengan demikian Tuhan dan manusia dapat bertemu dan mencapai kepenuhannya di dalam Tuhan sendiri, ad Maiorem Dei Gloriam.

Pertanggungajawaban Batin

Dalam pengalaman Ignatius, pertanggungjawaban batin merupakan sesuatu yang sangat esensial dan merupakan sebuah instrument yang vital dalam hidup apostolis serikat. Pertanggungjawaban batin ini diperlukan agar masing-masing pribadi tidak tersesat dalam pelayanan misi serikat, dan menurut Ignatius, tiap anggota serikat perlu menyatakan dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya kepada superior yang akan menyatakan kepada yang bersangkutan kehendak Tuhan ketika memutuskan untuk mengirimkan anggota serikat tersebut untuk sebuah misi. Yang menjadi pokok penting dalam pertanggungjawaban batin ini adalah kehendak untuk mengintegrasikan bakat-bakat pribadi ke dalam misi universal Serikat.

Pertanggungjawaban batin dalam serikat tidaklah sekedar menyangkut apa yang ada di dalam batin kita tetapi lebih merupakan sebuah ungkapan ekspresi total sebagai pribadi, menyangkut relasi kita dengan Tuhan, berkaitan dengan perkembangan diri, dengan komunitas, dengan keluarga dan juga berkaitan dengan tanggungjawab apostolis kita serta semua orang yang terlibat di dalamnya. Pertanggungjawaban batin adalah sebuah komunikasi antara anggota serikat dengan superior dalam konteks misi serikat dalam nama Kristus sendiri. Ini berarti bahwa mencari kehendak Tuhan dalam misi serikat merupakan sesuatu yang esensial dan mendasar dalam setiap pertanggungjawaban batin (NP. 150 art. 1). KJ 32 dengan jelas menunjukkan bahwa semakin pertanggungjawaban batin yang otentik dilakukan oleh setiap anggota serikat maka dengan demikian serikat sebagai tubuh akan lebih otentik pula dalam mencari kehendak Tuhan.

Pertanggungjawaban batin bukanlah percakapan antar sahabat (Kons. 93). Lebih tajam, konstitusi menunjukkan bahwa pertanggungjawaban batin haruslah dilakukan dalam semangat kerendahan hati yang besar, keterbukaan dan juga cinta kasih.

Pater Jendral memberi catatan khusus berkaitan dengan soal keterbukaan. Harus diakui bahwa keterbukan atau transparansi menuntut kemauan dari setiap Jesuit untuk mengorbankan apa yang disebut orang kebanyakan sebagai sebuah privacy. Di sisi yang lain Pater Jendral menunjukkan bahwa di berbagai budaya keterus terangan bukanlah sesuatu yang nyaman dan mengenakkan. Dengan hormat kepada keragaman budaya, Pater Jendral mengingatkan bahwa kemampuan dan kepekaan untuk menangkap apa yang dikatakan lewat ungkapan kiasan, bahasa tubuh dan juga symbol ataupun lewat cara implisit lainnya haruslah dimiliki oleh superior, karena seringkali berbicara to the point dan terus terang bukanlah kebiasaan yang universal.

Sama seperti dalam konteks cura personalis, pertanggungjawaban batin haruslah dilakukan dengan rasa percaya dan juga penuh kerahasiaan (confidential). Kerahasiaan ini diperlukan bukan pertama-tama untuk menciptakan rasa percaya tetapi merupakan sebuah ungkapan bahwa pertanggungjawaban batin merupakan hal yang sangat penting dan bukanlah melulu sesuatu yang rutin atau kegiatan tahunan belaka. Ignatius sendiri menempatkan pertanggugjawaban batin sebagai sesuatu hal yang agung dan dengan sikap hormat yang besar. Hal ini mengindikasikan bahwa hal-hal yang berkaitan pengiriman seorang Jesuit ke misi atau tugas perutusan merupakan sebuah urusan yang serius dan penting dalam gerak serikat dan bukan cuma sekedar “membuat sibuk” anggota serikat.

Santo Ignatius mengharapkan bahwa mereka yang mengirim anggota serikat ke medan perutusan hendaknya dengan serius mempertimbangkan hal-hal yang lebih membawa kemuliaan Tuhan yang lebih besar bagi mereka yang dikirim. Seorang superior harus memberi informasi yang cukup tentang tugas dan misi perutusan yang diberikannya kepada seseorang dan bagaimana, sebagai superior, dia menginginkan tugas tersebut dilakukan meskipun mereka yang dikirim tidak selalu harus tahu tentang alasan penugasannya tersebut.

Seorang superior harus bertanggungjawab untuk terjadinya pertanggungjawaban batin bagi setiap anggota serikat yang dipercayakan kepadanya. Pertanggungjawaban batin harus menjadi prioritas utama bagi seorang superior ketika mengagendakan jadwal tahunannya, dan dia harus memastikan bahwa setiap anggota bisa memiliki kesempatan untuk melakukan pertanggungjawaban batin ini.

Bagi mereka yang dikirim dalam tugas perutusan, Ignatius menekankan agar mereka dengan tulus melakukan pertanggungjawaban batin agar proses discernment dan juga pencarian kehendak Tuhan bisa terjadi secara otentik dan dalam kesatuan hati dan budi yang utuh dan sejati. Pater Jendral menggarisbawahi bahwa pertanggungjawaban batin bukanlah melulu soal situasi kerasulan atau kerja tetapi merupakan sebuah tugas perutusan secara utuh yang menyangkut hidup doa, kerasulan, komunitas, hidup sosial, kesehatan, keinginan masa depan dan juga keinginan-keinginan lainnya. Pater Arrupe sendiri dengan tegas pernah menyatakan bahwa beliau tidak puas bila pertanggungjawaban batin hanyalah sekedar laporan tentang situasi kerja ataupun aktivitas seorang Jesuit ataupun malah merupakan laporan atas aktivitas dan juga kelemahan tentang Jesuit yang lain. Pertanggungjawaban batin tidaklah sama dengan wawancara antara direktur perusahaan dengan anak buahnya, pun bukan sebuah percakapan layaknya dilakukan terhadap pembimbing rohani. Pertanggungjawaban batin haruslah dilakukan dalam semangat ketaatan sehingga dengan demikian yang bersangkutan bisa dihindarkan dari bahaya melakukan pekerjaan kerasulan dengan cara sebagaimana dia inginkan dan bukan dalam semangat kebersamaan dan ketaatan dalam mengemban misi serikat.

Pertanyaan Reflektif:

Sejauh mana pola relasi kita antar sesama Jesuit, di dalam komunitas Jesuit dan juga dengan mereka yang bekerja bersama kita didasarkan pada semangat cura personalis yang mengacu pada LR. 22? Secara real kita bisa merenungkan bagaimana kebiasaan kita menghadapi konflik, perbedaan ataupun juga dalam menghadapi kabar-kabar tidak sedap yang melibatkan rekan Jesuit di provinsi?

Sejauh mana pertanggungjawaban batin kita dengan pimpinan serikat merupakan sebuah proses yang dilandasi semangat pertanggungjawaban batin yang benar dalam konteks misi dan semangat konstitusi serikat?

Merenungkan cura personalis dan pertanggungjawaban batin yang merupakan 2 pilar penting dalam hidup Jesuit. Dalamm kaitan itu, apakah trust dan juga persaudaraan sebagai sahabat dalam Tuhan itu benar-benar tumbuh di dalam provinsi? Sejauh mana kesadaran akan semangat ketaatan dalam konteks pertanggungjawaban batin dalam gerak kerasulan serikat sungguh menghidupi pola relasi kita dengan superior?

Sejauh mana Latihan Rohani dan juga Konstitusi serikat masih menjadi pijakan dan inspirasi buat segala cara bertindak kita di provinsi secara nyata? Apakah benar ada indikasi bahwa kita sudah terlalu sibuk dan ada tendensi untuk melupakan dan tidak setia lagi pada Latihan Rohani dan Konstitusi?


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Rabu, 07 Mei 2008

4 Big Questions

We have four big existential questions to deal with in our lives. Every human soul wrestles in heart and mind try to answer these questions:

Who is God?
Who am I?
What is the purpose/goal of life?
How should I live to achieve that Goal?

Who is God?
Even if you are an agnostic, atheist, or you dont believe in the existence of God or a deity, you have to answer this question. Why? Because everybody has a God (or Gods) that governs the motivation of our existence. even if the word "God" never crosses our lips, we have central person or thing or objective we serve with all of our best intentions. As Christians, we might answer simply the question: God is love, God is the loving God. God is the almighty creator. We can answer the question "who is God" by mentioning as many as possible adjectives related to God like the ones we encounter in the bible. Or we can answer this question by telling our personal experience with and about God in our daily life or in our prayer and reflection. For people who are not consciously pursuing religious quest, the question still must be answered. Some of the answers are evident in where our passion lies: God is security, personal freedom, happiness, my job. God is the pursuit of wealth, fame, reputation, self-actualization or power.

To figure out which God you serve, all you have to do is examine your life. Who or what demands your allegiance before all else? Where does the bulk of your passion and energy go? What would you be willing to die? How do you use most of your time? What are your deepest longing? What are your values? Sometimes our answer to these questions may surprise us. Maybe we thought that our God is the one we talk about in church, but the truth may be that our own comfort, ambition, your work, your wealth, your money, your security is your real God we are committed to serving. We may give lip service to God in heaven, but much of the time we are humbled to realize that we are more dedicated to serving ourselves here on earth.

Who am I?
I read a book about "quarterlife crisis", and it is very interesting to find out that the biggest crisis for young people these days is "identity crisis". Young people find the easiest way to define who they are by what they do. When they have job description, when they have work, they sometimes apply it to their identities because that is the only constant they have. According to the author of the book, these young people will tell all work-related stories when they are talking to somebody. It is always about work, being proud or just wants to show off about how important he/she is in this society. The author has nothing against being proud of what people do, since this is a normal phenomenon among young people today. But when somebody continuously just identify their identity to what they do, it would be a huge crisis in his/her personality in the future, and certainly it will cost him/her so much, and not only him/her, but the family or loved ones. They always have problem in interpersonal relationship. Very few people can understand him/her and usually, this kind of person is psychologically problematic.

The matter of identity is very crucial for us. Being male and female, gay or straight, old or young, Christian or Muslim, famous or obscure, intellectually gifted or challenged- all these elements are pertinent to how we go about living our lives. The matter of identity is not only about what we do, but again about who we are, with its dimensions. Identity becomes an existential-philosophical question or even theological question when we recognize that all of the useful energy of our lives goes into the service of who or what our God is. Because of this, when we answer the first of the four big questions (who is God?) in a way, we have already answered the rest.

In other words, who I am and how I understand myself is largely determined by who I think God is. Your life will be evaluated through that fundamental lens -who you think God is-. If the God you know is the God who loves and forgives, you will put your effort to build that kind of identity into your life in whatever you do. If the God you know is security, wealth, fame and reputation, or money you will recognize yourself as a hard worker with promotion, salary, power and pleasure as your standard and measures in life. You will always think and talk about power, money or things that you can buy or places you could visit. And you will try to show people that you are successful and have good reputation. Image is important for such people because with the good image, they feel secure.

What is the Purpose/Goal of Life?
At this point you can see how answering the first of the four big questions really has an impact on your response to all of them. Who God is and who we are, determine what the point of living in this world really is, which bring us to the third question: what is the purpose/goal of life? If your God is money, as it is for some folks, then they will define themselves in the acquisition of money. The goal of their lives become clear: to get more. This goal will likely crowd out some others like their attention to a spouse-husband and wife/boyfriend/girlfriend/children or personal development.

There are people who really work hard. They don’t nurture their "inner beauty" and "inner life". Their lives become so miserable and boring. Their ideas are not so bright and they cannot talk about something inspiring about life anymore. The only thing that can inspire them is money and pleasure. If your God is money, it will bring you to compromise certain moral principles that get in the way: fairness, honesty, and sacrifice. If our goal in this world is to please, to be found worthy, then life becomes a juggling act of keeping the entire worthiness factor in the air. When somebody has something she/he thinks will displease people, she/he will try to hide it from people. But if God you know is God as a compassionate person, a loving person, forgiving friend, we might then identify ourselves as the recipients of great love. Life will be built on this perspective and we can share this perspective in our lives and to others. There is a big problem from modern people today. They don’t know anymore God they believe in. For some people, religion is no longer a pathway to God. It is more simply a ritual, or institutional matter or social interaction or identity. No wonder if some people do not know anymore what it is of being a Muslim, catholic or Christian, Buddhist, etc. Religion is a symbol and not a pathway to spirituality.

How Should We Live?
At this point, the mathematic of these questions seems pretty clear. You plug in the first response to the equation and the rest of the numbers add up naturally. Once we answer first question honestly (who is God?) then the personal identity, the goal of life and how we should live are surprisingly clear and answered. But we should notice that the first two questions are personal questions (who is God? and who am I?) but quickly these two personal question become interpersonal questions: what's the goal of life and how do we live that out in the world around me? Some people who seek self-actualization, security, wealth, power and good reputation as their main principles and orientation will find others as means to achieve their dreams, ambition and longing.

Consciously and unconsciously, these people tend to manipulate relationship with others to serve their needs, ambition and dreams. These people are so demanding when it comes to relationship with others in any context. When they have power over somebody or when they are in equal position to somebody else, they will stand up and fight and tend to manipulate people around, but when they have no power the defense mechanism is to complain and whine. For these people, self-satisfaction and self-happiness is the only focus.

We were designed with the relationship with others. What is the evidence for this hypothesis? the answer is simple: Love. Love is the perfect indicator that we were designed with relationship with others. And philosophically, human being could only be understood by relation with others. Philosophy gives us evidence: language. If we are made for love, and if we are made of love, and if we need to express love or to express our feelings, idea through language, with need one another. It is an absolute truth.

So, being with somebody, being in love, loving each other, or being in a community is not just an ideal. It is a necessity. But sometimes we don’t know anymore how to deal with people; we don’t know how to love people, and we don’t know how to understand people because we are too busy to love ourselves, to seek ourselves and to seek self-actualization selfishly.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy