Selasa, 31 Juli 2007

Santo Ignatius Loyola (31 July)

Membaca kisah pertobatan dan hidup Santo Ignatius selalu memberi inspirasi pada diri saya bahwa Tuhan tidaklah jauh dari realitas hidup manusia. Bila Tuhan berkehendak dan kita mau mendengarkanNya, maka sebuah “langkah besar” dalam hidup kita sedang dirintis bersamaNya.

Pertobatan Santo Ignatius memberi inspirasi bahwa “menemukan Tuhan” bukanlah soal yang “tidak mungkin”, sekalipun bagi seorang Inigo (nama kecil Ignatius), seorang putra bangsawan Basque Spanyol yang masa mudanya melulu dipenuhi dengan impian-impian heroisme, dan keduniawian. Dalam penderitaan sakitnya akibat berperang, Impian-impian tersebut berubah menjadi kehendak untuk mencari kehendak Tuhan, hidup dalam askestisme, berjiarah dan menolong sesama yang miskin dan membutuhkan. Mencari jalan yang terbaik dalam hidupnya untuk mengabdi Tuhan menjadi impian Ignatius yang terutama, walaupun seringkali harus melalui penghinaan, dinomorduakan dan dicurigai banyak orang. Kisah pertobatan Ignatius memberi inspirasi bagi kita bahwa dalam kesakitan, ketidakberdayaan kita, Tuhan tetap berkarya, dan sangat mungkin berkarya untuk sesuatu yang besar dalam hidup kita.

Perjalanan hidup Santo Ignatius memberi warisan berharga bagi banyak orang lewat Latihan Rohani yang disusun dan dikumpulkan dari pengalaman pertobatannya. Latihan Rohani yang menjadi jiwa dari Spiritualitas Ignasian telah membawa banyak orang untuk bertemu dengan Tuhan sendiri, dan semakin peka untuk mencari kehendakNya. Ordo Serikat Yesus yang didirikannya bersama 6 sahabatnya dari Universitas Paris pun memberikan banyak sumbangan yang berharga bagi Gereja dan dunia hingga saat ini. Pertobatannya membawa orang lain juga bertobat. Kisah Keterbukaan Ignatius terhadap sentuhan kehendak Tuhan dalam kisah pertobatannya merupakan sebuah catatan penting dan inspiratif bagi orang-orang beriman jaman ini yang sangat rentan dininabobokkan oleh berbagai macam tawaran dan pilihan yang seringkali mengaburkan nilai dan juga orientasi hidup kita.

Pertobatan Santo Ignatius tidak hanya mengubah dirinya, tetapi juga mengubah hidup ribuan pemuda (dan yang tidak terlalu muda, dan yang sudah tidak muda lagi) yang sampai dengan detik ini mengikuti dan menghidupi warisan rohaninya sebagai Jesuit di berbagai belahan dunia, dan juga tentunya lebih banyak lagi kaum awam yang menghayati spiritualitas Ignasian dalam hidup harian personal dan professional mereka.

Malam menjelang Pesta peringatan Santo Ignatius, yang adalah hari wafatnya, ketika merenungkan kembali kisah hidup Bapa Ignatius, saya boleh dengan rendah hati berkata bahwa pertobatan itu telah mengubah diri saya juga, dan semoga tetap demikian adanya. Kebahagiaan dan juga kegembiraan hidup yang saya alami tidaklah lepas dari kesadaran penuh atas Tuhan yang selalu hadir dalam diri saya. Kesadaran ini mungkin tidak akan penuh hadir seperti sekarang ini apabila saya tidak diperkenalkan secara mendalam pada Spiritualitas Ignasian, spiritualitas yang menggerakkan saya untuk mencari dengan tekun kehendakNya dalam hidup real: dalam kegembiran, kesedihan, ketakutan, keraguan, kekuatan dan kedosaan saya.

Saya sungguh bersyukur boleh menikmati rahmat kekayaan rohani ini yang memampukan saya untuk melihat Tuhan dalam segala hal – Finding God in All Things, and in all things to serve and to love. Sungguh sebuah rahmat yang tak terkira.

Buat para sahabat tercinta dalam Serikat Yesus: Selamat Pesta Santo Ignatius


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Minggu, 29 Juli 2007

Spiritualitas Ignasian

Seperti halnya spiritualitas kristiani pada umumnya, Spiritualitas Ignasian dari Santo Ignatius Loyola memberikan kepada kita berbagai metode yang bertujuan untuk membangun hidup rohani dan mengintegrasikan relasi dengan Tuhan dan kehidupan nyata di dalam dunia.

Dasar dari spiritualitas Ignasian ini secara khusus berpijak pada sosok, pribadi dan hidup Yesus sendiri serta relasiNya dengan dunia. Singkatnya, bagaimana Yesus yang kita kenal dalam Kitab Suci bertindak, berkarya, mengajar dan berelasi dengan orang-orang di sekitarnya, dan menjadi sumber inspirasi dalam hidup kita. Kepekaan atas kehadiran Yesus dalam hidup kita ini tentunya dilatih dari kebiasaan kita berdoa, dan memandang hidup kita dari kacamata iman, atau dalam kesadaran bahwa Tuhan selalu menyertai, dan kita diajak untuk senantiasa mencari kehendakNya. Pola hidup rohani yang demikian inilah yang membuat Santo Ignatius Loyola akhirnya sungguh merasa dekat dan sungguh menjadi sahabat Yesus sendiri. Persahabatan dengan Yesus inilah yang memberi makna dan tujuan dalam hidupnya. Dalam Spiritualitas Ignasian persahabatan dengan Yesus yang demikian ini merupakan hal yang fundamental.

Karakteristik dari spiritualitas Ignasian adalah karakteristik dari hidup rohani Santo Ignatius sendiri. Karakteristik-karakteristik ini adalah sebagai berikut:
  • Kesadaran sebagai ciptaan Tuhan dan ditebus olehNya lewat misteri Salib dan kebangkitan.
  • Kesadaran bahwa Yesus memulai karya penebusan lewat hal-hal yang sederhana dan juga lewat realitas hidupNya, menunjukkan bahwa dunia ini adalah tempat yang baik untuk hidup dan berkarya.
  • Keinginan untuk menjadi sahabat Yesus sendiri yang melanjutkan misiNya di dunia.
  • Kebiasaan hidup doa yang berkelanjutan dan juga kepekaan terhadap roh dan kesungguhan untuk mencari kehendak Tuhan dalam hidup.
  • Selalu mencoba mencari gerak dan kehadiran roh kudus dalam hidup bersama

Dalam Buku Latihan Rohani, khususnya pada bagian "Azas dan Dasar", terungkap dengan jelas semangat dasar dan jiwa Latihan Rohani:

"Tuhan menciptakan manusia dan terus hadir dalam diri kita dengan penuh cinta. Oleh sebab itu tidak ada jawaban dan respon yang lebih mulia atas kasih Tuhan itu selain memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan sendiri. Segala sesuatu yang juga diciptakan Tuhan karena cintaNya, dengan demikian harus digunakan dan dipersembahkan kepadaNya dengan penuh hormat dan cinta, untuk memuliakan Tuhan dan mencintai sesama, dengan bertanggungjawab dan tidak lekat pada ambisi pribadi"

Semangat dasar dan jiwa latihan rohani itu menjadi arah kita dalam hidup harian dan pedoman pokok dalam hidup kita, dan juga dalam setiap pemeriksaan batin dan doa-doa kita.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Sabtu, 28 Juli 2007

Spiritualitas Orang Sibuk?

Seorang konsultan dalam The Happiness Project pernah mengatakan bahwa kunci kebahagiaan seseorang adalah ketika orang tersebut memiliki waktu tenang dan hening dengan dirinya sendiri.

Ini artinya, sejenak waktu untuk merefleksikan hidup (= melihat kembali), dan menatap langkah ke depan merupakan faktor penting dalam menjalani hidup yang bahagia. Waktu tenang ini kadang mengingatkan kita bahwa hidup itu penuh makna, dan semakin membuka mata kita akan banyak kebaikan dan cinta di dalamnya dari orang-orang di sekitar.

Problem mendasar orang jaman ini adalah bahwa kita tidak lagi dikondisikan untuk berani “berenang” di dalam keheningan. Terus sibuk, bekerja atau dipenuhi berbagai macam informasi lewat televisi, internet, media massa, music dll menjadi tantangan real orang jaman ini untuk menyadari betapa pentingnya waktu hening penuh refleksi.

Hanyut di tengah kesibukan, atau menjadikan diri sibuk, dalam masyarakat dewasa ini rupanya lambat laun menjadi sebuah gaya hidup. Kita selalu ingin sibuk atau paling tidak terlihat sibuk. Sibuk atau hanyut dalam kesibukan tanpa disadari sudah merupakan sebuah simbol status. Setiap kali kita mengatakan pada orang lain “Wah saya sibuk” kita seolah-olah mau mengatakan kepada orang lain bahwa hidup kita sungguh berhasil, karir kita maju pesat dan hidup kita merupakan sesuatu yang hebat dan berharga, dengan harapan orang lain akan menghargai kita, memandang kita sebagai orang yang berhasil. Mantra yang kita hayati dalam masyarakat yang super sibuk adalah “Kalau saya sibuk dengan demikian saya baik-baik saja”, atau “Sibuk itu baik, Semakin Sibuk lebih baik”

Bila kita terlihat sibuk seringkali memberi kesan yang sangat impresif dan mengagumkan bagi orang lain. Orang akan terkesan bahwa kita sangat fokus dengan pekerjaan kita, produktif dan efisien, penuh vitalitas dan bersemangat. Namun, terlihat sibuk atau menyibukkan diri, kadang dalam realitas yang terdalam seringkali menyembunyikan rasa bingung, tidak percaya diri, dan ketakutan. Dalam situasi yang demikian, terlihat sibuk atau hanyut dalam kesibukan hanyalah sebuah outlet atau pelarian dari sebuah ketakutan dan sikap tidak percaya diri seseorang, atau pelarian dari sebuah unfinished business dalam hidup seseorang. Singkatnya, sibuk kadang menjadi sebuah defense mechanism psikologis.

Menyibukan diri atau memiliki jadwal yang sibuk memang membuat diri kita merasa penting, tetapi apakah yang kita sibukkan itu memang sesuatu yang penting dan esensial dalam hidup kita??

Dalam masyarakat yang sibuk dewasa ini, tak jarang kesibukan justru malah menyesatkan diri kita. Kesibukan kita seringkali menjadi batu sandungan bagi majunya relasi kita, karir kita dan juga hidup kita. Hidup yang selalu sibuk tidaklah selalu berarti hidup yang berarti. Jadwal harian yang padat dan sibuk bukanlah bukti kesuksesan kita ataupun jaminan untuk sukses. Tentunya kita semua menyadari bahwa seringkali hidup kita yang sibuk ini selalu diawali dengan sebuah intensi yang sangat mulia, menunjukkan sebuah komitmen kita kepada pekerjaan atau misi yang kita emban. Namun seringkali di tengah perjalanan kita justru ditelan oleh kesibukan tersebut sehingga lupa apa yang benar-benar penting, real dan luhur dalam hidup kita. Kita begitu terobsesi dengan jadwal harian kita, tertelan oleh ritme harian, kecanduan pola hidup cepat yang akhirnya menutup mata hati kita akan sisi lain yang indah dan benar-benar berharga dalam hidup ini. Mungkin benar dalam masyarakat sekarang ini, bahwa “We are too busy to be happy”

Hidup di tengah-tengah kesibukan atau hanyut di dalamnya seringkali membuat kita tidak menghayati hidup kita dengan sungguh baik. Di dalamnya tidak ada keheningan dan kedalaman hidup karena kita cenderung untuk terus bergerak dan sibuk. Tidak ada kata “berhenti” bagi kita yang sudah hanyut dan kecanduan akan kesibukan dan kerja keras. Kita takut berhenti barang sejenak karena kita takut kehilangan waktu dan juga takut tertinggal dalam karir dan kesempatan. Ketakutan untuk berhenti barang sejenak menumpulkan kemampuan kita untuk peka akan sesuatu yang sebenarnya kita rindukan dalam hidup ini, membuat kita lupa apa yang benar-benar penting dalam hidup. Akhirnya kita lupa bahwa dalam hidup ini ada berbagai macam pilihan dan bahkan lupa akan makna hidup yang sesungguhnya.

Menumbuhkan kemampuan untuk “berhenti” dari kesibukan merupakan sesuatu yang perlu disadari dan dilatih dalam hidup ini, terutama bagi kita yang selalu sibuk atau hanyut dalam kesibukan. Berhenti sejenak dari kesibukan akan kembali memberi inspirasi hidup, memperbaharui arti dan makna hidup kita, menimba kebijaksaan dari pengalaman kita dan sekaligus belajar daripadanya.

Dalam spiritualitas Ignasian, berhenti sejenak dalam aktivitas hidup sehari-hari dan di dalam keheningan melihat kembali jalan hidup kita bersama terang rahmat Tuhan merupakan sesuatu yang amat vital sekaligus mendasar. Di sinilah jantung spiritualitas Ignasian mulai berdetak dan memberi vitalitas hidup pada setiap peristiwa hidup kita. Disinilah makna "Menemukan Tuhan Dalam Segala - Finding God in All Things" menjadi nyata.

Mungkin ilustrasi menarik yang berkaitan dengan hal ini adalah Balap Mobil Formula 1. Salah satu strategi penting dalam memenangkan lomba jet darat ini adalah strategi pit-stop. Tak peduli betapa hebatnya sang pembalap sekelas Michael Schumacher, atau betapa cepatnya mobil Ferrarinya, sang pembalap tidak akan bisa memenangkan lomba apabila tidak didukung dengan strategi pit-stop yang jitu. Seorang pembalap dan juga crew balapan harus tahu kapan saat yang tepat untuk berhenti: mengganti ban, mengisi bahan bakar, dan berstrategi. Formula 1 adalah balapan adu strategi dan kecepatan, dan strategi pit-stop sangat sering menentukan hasil lomba.

Berhenti sejenak dari kesibukan akan membuat hidup kita menjadi lebih inspiratif dan membuat kita menjadi semakin lebih bijak dan dewasa menghayati hidup ini. Berhenti akan membuat kita belajar dari hidup kita, belajar dari kesalahan-kesalahan kita dan akhirnya justru akan memperkaya hidup. Dalam keheningan, kita bisa merasakan kedalaman hidup dan mengalami bahwa Tuhan begitu baik.

Pada titik inilah, spiritualitas dalam hidup kita mendapat awal pijakannya.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola

Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola adalah kumpulan doa dan meditasi serta “manual” untuk membangun hidup rohani yang disusun oleh Santo Ignatius Loyola, khususnya selama masa-masa formatif pembentukan hidup rohaninya (tahun 1522-1524). Kumpulan doa, meditasi, dan teknik latihan rohani ini biasanya dijalankan selama 28-30 hari dalam retret tertutup, dan bertujuan untuk membangun dan memperdalam relasi iman personal pada Yesus lewat misteri kelahiran, kehidupan, karya, sengsara dan kebangkitanNya. Dalam Latihan Rohani ini setiap orang diajak untuk merenungkan beberapa aspek penting dalam iman kristiani seperti: penciptaan, dosa, pengampunan, panggilan, pelayanan, dan juga hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dengan bimbingan seorang pembimbing rohani, setiap orang lewat latihan-latihan rohani dibantu untuk mencapai kebebasan spiritual, dan kemampuan untuk menemukan kehendak Tuhan dalam hidupnya dan bertindak atas dasar roh dan cinta Tuhan yang diterimanya.

Latihan Rohani Santo Ignatius merupakan bagian penting dari pendidikan seorang Jesuit. Dalam masa novisiat (pendidikan awal seorang jesuit selama 2 tahun), seorang novis (calon) Jesuit wajib melakukan Latihan Rohani Santo Ignatius ini (retret agung) selama 30 hari. Namun demikian Latihan Rohani ini tidak hanya untuk para Jesuit atau religious. Sudah cukup banyak kaum awam yang mendalami dan menekuni Latihan Rohani Santo Ignatius. Latihan rohani, walaupun didesain untuk dilakukan dalam Retret Tertutup, juga bisa dilakukan dalam Hidup Harian biasa, tentunya tetap dengan bimbingan seorang pembimbing rohani, yang biasanya adalah seorang Jesuit.

Dalam latihan rohani selama 30 hari, ada berbagai meditasi yang dilakukan setiap hari yang berkaitan dengan Manusia dan Dunia, Psikologi hidup manusia sebagaimana dipahami Santo Ignatius, dan Relasi personal dengan Tuhan. Dalam prosesnya, Latihan Rohani ini dibagi dalam 4 bagian besar (4 Minggu) dengan tema pokok sebagai berikut: Dosa, Misteri Hidup Yesus, Kisah Sengsara Yesus, dan Kebangkitan Yesus. Setiap hari pembimbing rohani memberikan bahan latihan rohani, lalu ada wawancara bersama yang merupakan refleksi bersama atas proses doa/latihan rohani yang dijalani dalam 4-5 kali doa/latihan yang dilakukan selama 1 hari (masing-masing selama kurang lebih 1 jam). Proses Latihan Rohani ini merupakan sebuah proses dimana seseorang pada akhirnya mampu memahami bagaimana pengalaman-pengalaman rohani yang dialami dalam doa dapat diapplikasikan dalam hidup nyata.

Pengalaman spiritual dalam Latihan Rohani ini tentunya menjadi sangat berguna dalam hidup real. Kemampuan untuk membedakan gerak roh, mencari kehendak Tuhan dan semata-mata mengarahkan hidup kita kepada kehendakNya merupakan hal-hal pokok yang dicapai dalam pengalaman Latihan Rohani Santo Ignatius


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Jumat, 27 Juli 2007

Pemeriksaan Batin - The Examen of Consciousness

Dalam Spiritualitas Ignatian dan Latihan Rohani, pemeriksaan batin (English: Examen of Consciousness - Latin: Examen Conscientiae) adalah aktivitas doa yang fundamental. Doa yang diambil dari tradisi para Jesuit selama hampir 500 tahun ini sangat membantu kita dalam menumbuhkan relasi personal dengan Tuhan sendiri.

Pemeriksaan batin adalah sebuah aktivitas doa dimana kita hendak menemukan gerak roh di dalam hidup harian kita. Aktivitas ini dapat dilakukan dimana saja: di sela-sela istirahat makan siang di kantor, di mobil, di kamar, di perpustakaan atau di tempat lainnya. Biasanya pemeriksaan batin ini dilakukan dua kali sehari: satu kali pada saat sebelum/sesudah makan siang dan satu lagi ketika menjelang tidur di malam hari.

Ada 5 langkah sederhana untuk melakukan pemeriksaan batin yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Lima langkah ini pada dasarnya merupakan upaya menangkap gerak roh dalam realitas hidup kita. Lewat metode ini hari demi hari kita akan semakin dilatih untuk menjadi peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan juga kesadaran diri yang lebih mendalam. Kesadaran diri yang mendalam ini merupakan factor penting dalam pertumbuhan kepribadian, mengembangkan potensi diri, dan juga relasi dengan sesama. Situasi yang demikian merupakan situasi yang sangat mendukung dan subur bagi rahmat Tuhan untuk bekerja dalam diri kita.

Sebelum memulai, usahakanlah berada di tempat yang tenang atau di tempat dimana anda tidak begitu terganggu dengan suasana/suara sekitar. Bila anda berada di kamar baik juga membuat suasana kamar menjadi nyaman seperti menyalakan lilin atau meredupkan lampu. Relaks dan duduklah dengan nyaman.

1. Sadarilah bahwa anda hadir di hadapan Tuhan. Kesadaran bahwa kita hadir di hadapan Allah akan membawa kita kembali menyadari bahwa kita adalah ciptaanNya dan menyadari bahwa cinta Tuhan selalu menyertai hidup kita.

2. Lihatlah kembali peristiwa yang terjadi dalam hidup anda selama hari yang sudah berlalu. Ingatlah kembali setiap peristiwa yang terjadi sejak anda bangun pagi, ketika sarapan, berangkat bekerja, di kantor/sekolah, peristiwa-peristiwa yang membuat anda tertawa, sedih, tertekan, gembira. Hidupkanlah kembali dalam ingatan anda peristiwa yang berkesan dan penting dalam hidup anda selama hari tersebut. Sambil mengucap syukur pada Tuhan atas berbagai peristiwa hidup yang sudah dialami selama hari itu, renungkanlah juga sisi-sisi positif dalam diri anda, potensi dan kekuatan dalam diri anda, dan juga kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri anda.

3. Mohon kepada Tuhan kehadiran Roh Kudus supaya anda dapet dengan jernih, jujur, sabar dan tenang dalam merenungkan peristiwa, tindakan, tingkah laku dan motivasi anda selama hari tersebut. "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran." (Yoh 16:13). Terang Roh Kudus akan memberi inspirasi bagi anda untuk melihat peristiwa tersebut dalam terang iman, tidak menjadi hanyut dalam kekecewaan mendalam, dan di sisi lain tidak juga menjadi acuh tak acuh. Menempatkan peristiwa hidup anda dalam kacamata iman menjadi penting karena disinilah terang Roh Tuhan sendiri akan membukakan hati anda untuk melihat kebaikan Allah, dan juga merasakan tawaran Allah dalam diri anda untuk selalu terus bertumbuh.

4. Sekarang, renungkanlah peristiwa hidup anda hari itu satu persatu. Ini adalah bagian terpanjang dari pemeriksaan batin. Setelah anda mengingat-ingat kembali peristiwa hidup anda hari itu (langkah no.2), pada tahap ini anda diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa tersebut secara lebih mendalam: Apa yang anda rasakan dalam hati anda? Tinjaulah kembali perasaan-perasaan, tindakan dan dorongan batin anda dalam mengalami sebuah peristiwa, siapa sajakah yang terlibat dalam peristiwa itu dan apa harapan, ketakutan ataupun keraguan yang anda alami. Perlu diingat baik-baik: Ini bukanlah saat dimana anda mengingat kesalahan/kegagalan/kekurangan diri anda. Lebih jauh, dengan langkah ini, anda bersama Tuhan sendiri mau melihat sejauh mana anda dalam hidup menanggapi rahmat Tuhan, lewat peristiwa dan orang-orang yang anda jumpai. Adakah situasi ketika anda justru tidak berbuat apa-apa ketika seharusnya ada terpanggil untuk berbuat sesuatu yang baik? Adakah situasi dimana kita jatuh dalam ketidakjujuran dan acuh tak acuh? Adakah situasi dimana anda justru membawa perpecahan dan bukan membawa kedamaian dan penghiburan? Adakah saat dimana kita bergembira dan solider dengan yang membutuhkan? Adakah saat dimana kita sungguh berbagi? Apakah Tuhan sungguh menjadi penggerak dan inspirasi hidup anda dalam peristiwa-peristiwa tersebut? Latihan ini sangat berguna untuk memperdalam kesadaran diri sebagai orang beriman, dimana hidup kita adalah sebuah jawaban terus menerus atas kebaikan dan rahmat yang diberikanNya setiap hari.

5. Wawancara hati ke hati dengan Yesus sendiri. Disini anda berbicara dari hati ke hati dengan Yesus sendiri, secara sungguh personal tentang hari yang anda lalui. Berbicaralah layaknya seperti teman dekat, utarakan perasaan anda, pikiran anda, rasa syukur, sedih dan gembira yang anda alami. Mungkin ada merasa butuh pengampunan, mohon bimbingan, mengucap syukur, prihatin atau sekedar bergembira atau berbagi beban. Ucapkan terima kasih pada Tuhan dengan sepenuh hati, atas kehadiranNya, atas rahmatNya, sehingga anda bisa memandang hidup hari ini secara lebih jernih dan tenang. Mintalah berkat Tuhan untuk dapat maju lebih baik di hari berikut. Tutuplah dengan doa Bapa Kami secara perlahan.

Bila anda sudah terbiasa melakukan aktivitas ini, anda akan menemukan ritme dan metode yang lebih personal. Pakailah lima tahap di atas secara leluasa, seturut gerak roh yang hadir dalam diri anda. Anda bisa menggunakan sarana music, gambar, lilin atau sebuah altar kecil bila anda melakukannya di kamar. Bila anda memiliki iPod atau MP3 Player, anda bisa download audio file yang berisi tuntunan untuk melakukan pemeriksaan batin. File audio ini berbahasa inggris, dari Pray as You Go

Silakan download dan klik di sini


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Kamis, 26 Juli 2007

Beberapa Istilah dalam Spiritualitas Ignasian

Pembedaan Roh/Discernment

Bagi Santo Ignatius Loyola, pembedaan roh merupakan bagian integral dari pejiarahan rohani setiap orang. Mereka yang hendak membangun hidup rohani hendaknya memiliki seorang pembimbing yang bersamanya mereka dapat meneliti kemana roh menggerakkan diri mereka. Pembedaan roh ini dapat dilakukan dengan merefleksikan situasi hati yang gembira, bersemangat, mendapat penghiburan atau peneguhan (situasi ini biasa disebut konsolasi) dan juga situasi hati yang sedih, berat, penuh beban, lesu (situasi ini disebut desolasi). Selain itu, pembedaan roh juga dapat dilakukan dengan merefleksikan insight dan juga inspirasi yang diperoleh selama Latihan Rohani.

Menurut Santo Ignatius, seorang beriman yang hendak bertumbuh dalam hidup rohani perlu secara jujur dan terbuka membagikan pengalaman rohaninya kepada seorang pembimbing yang bisa membantu untuk melihat pengalaman-pengalaman tersebut secara jernih dan obyektif dan tidak dikuasai atau dikendalikan melulu oleh emosi, keinginan dan perasaan sesaat belaka. Pembedaan roh ini memerlukan kejujuran, kelemahlembutan, sikap tenang dan juga refleksi rasional. Roh yang baik akan selalu membawa diri kita pada kedamaian hati, ketentraman dan juga kegembiraan hidup. Sebaliknya roh jahat biasanya selalu membuat kita untuk cenderung terburu-buru, emosional dan seringkali membuat kita tidak konsisten dengan keputusan-keputusan yang kita buat. Bagi Santo Ignatius, mereka yang ada dalam posisi sebagai pembimbing rohani harus punya kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, sabar dan bertanya dengan penuh cinta kasih serta mengajak pihak yang dibimbing untuk secara jernih melihat pengalaman rohaninya.

Ad Maiorem Dei Gloriam

Ad Maiorem Dei Gloriam, atau singkatnya AMDG adalah semboyan dari Ordo Serikat Yesus (Jesuit). Ad Maiorem Dei Gloriam adalah ungkapan berbahasa latin yang artinya “Demi Kemuliaan Tuhan Yang Lebih Besar”. Motto ini merupakan ciri mendasar dari Serikat Yesus, yang tentunya berakar dari jiwa dan semangat Latihan Rohani: mengabdi dan memuliakan Tuhan dalam segala hal.

Motto Ad Maiorem Dei Gloriam juga biasanya digunakan sebagai motto oleh banyak institusi yang dikelola atau dimiliki oleh Serikat Yesus, seperti sekolah dan universitas di berbagai penjuru dunia. Tentunya, semangat yang mendasari motto inilah yang ingin selalu diperkenalkan dan disampaikan kepada mereka yang dididik dalam institusi Jesuit.


Magis

Magis disini bukan berarti “sihir” atau “magic”. Ini adalah istilah dalam Spiritualitas Ignasian yang berarti “Lebih”. Tentunya istilah ini digali dari motto Jesuit sendiri “ad Maiorem Dei Gloriam”. Dengan kata “Magis” berarti seseorang mau berbuat lebih, tidak cepat berpuas diri, tidak “suam-suam” kuku, seenaknya, bersantai ria, tetapi secara optimal mau mencari dan mewujudkan kehendak Allah dalam hidupnya dan tugas panggilannya bagi orang-orang di sekitarnya.

Semangat magis ini juga berakar pada jiwa dan semangat Latihan Rohani: Apa yang telah saya perbuat untuk Tuhan? Apa yang sedang saya perbuat untuk Tuhan? Dan apa yang akan saya perbuat untuk Tuhan?

Cura Personalis

Cura Personalis dalam tradisi spiritualitas Ignasian mendapat akarnya pada catatan-catatan pendahuluan dalam Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola. Cura Personalis merupakan sebuah semangat untuk membantu orang lain secara tulus dan terbuka dalam membangun hubungannya dengan Allah dan sesama. Cura personalis harus selalu dipandang dalam konteks antara tuntutan panggilan hidup, semangat magis dan juga hidup rohani. Seseorang yang berada dalam posisi membantu orang lain dan juga mereka yang dibimbing perlu menciptakan suasana saling percaya satu sama lain. Oleh sebab itu, sikap terbuka, jujur, tidak menghakimi, tidak mengatur tetapi lebih cenderung mau mendengarkan dan bertanya sebagai sahabat merupakan sikap yang penting dalam cura personalis. Singkatnya, cura personalis adalah semangat dan tindakan yang lebih membantu orang lain untuk bertemu dengan Tuhan sendiri secara otentik.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Selasa, 24 Juli 2007

The Jesuits

Siapakah Para Jesuit itu?

Jesuit adalah anggota Serikat Yesus, yaitu sebuah ordo religious dalam Gereja Katolik yang beranggotakan sekitar 19 ribu orang (laki-laki) yang tersebar di 6 benua dan 124 negara di berbagai penjuru dunia. Anggota Serikat Yesus ini terdiri dari para imam, bruder ataupun skolastik (frater) yang sedang belajar dalam proses pendidikan imam.

Bagaimana Asal Mula Jesuit?

Hidup seorang Jesuit diinspirasikan dan berdasar atas pengalaman persahabatan Santo Ignatius Loyola dengan 6 mahasiswa pascasarjana di Universitas Paris. Ketujuh mahasiswa ini berkumpul dan berikrar di Kapel di Bukit Monmartre pada tahun 1534 untuk tetap menjaga erat persahabatan mereka bahkan setelah mereka lulus dari universitas. Mereka memilih untuk hidup miskin sesuai dengan semangat injil dan pergi misi dan berjiarah ke Yerusalem. Mereka menyebut dri mereka “Amigos en el Senor”- “Sahabat dalam Tuhan”

Sang pemimpinnya bernama Inigo Lopez de Loyola, yang dikemudian hari dikenal sebagai Ignatius. Dia adalah anak bungsu dari keluarga bangsawan dari wilayah Basque di Spanyol utara. Dididik dan dilatih sebagai seorang bangsawan dan ksatria di masa kekuasaan Raja Ferdinand, dia mengidamkan kejayaan sebagai ksatria dengan pedang dan baju zirahnya.

Ketika Ignatius dilahirkan pada tahun 1491, Jaman abad pertengahan baru saja berakhir dan jaman renaissance baru saja merasuki Eropa. Dengan demikian bisa dipahami bahwa Ignatius hidup dalam dua pengaruh jaman dan dunia yang berbeda.

Eropa di akhir abad 15 adalah dunia yang diwarnai dengan penemuan-penemuan baru yang inovatif dan mengubah perabadan. Orang-orang eropa pada saat itu menjelajah sampai ke amerika dan afrika. Para ilmuwan menemukan peradaban Yunani dan Roma yang terpendam. Mesin cetak dan juga media cetak menjadi sebuah harapan sekaligus ujung tombak berkembangnya ilmu pengetahuan di kalangan kelas menengah. Jaman tersebut adalah jaman dimana humanisme baru lahir. Jaman tersebut adalah sungguh masa penuh perubahan yang radikal secara sosial dan budaya.

Dalam pertempuran heroic pada tahun 1521 untuk mempertahankan Benteng perbatasan Spanyol di Pamplona dari serangan artileri Prancis, kaki kanan Inigo terluka parah akibat peluru meriam. Dia ditawan oleh pasukan Prancis. Kagum akan keberanian dan semangat Inigo, pasukan Prancis ini menandu Inigo menyusuri wilayah Spanyol sampai ke Loyola, daerah asal Inigo. Inilah saat-saat penyembuhan panjang luka Inigo dimulai

Pada masa itulah, dia membaca beberapa buku-buku religious, satu-satunya bahan bacaan yang tersedia. Lewat buku-buku inilah dan juga masa-masa kesendirian bergulat dengan rasa sakit, pertobatan Inigo terjadi, yang pada akhirnya merupakan tonggak awal mula sejarah berdirinya Serikat Yesus. Ignatius mulai akrab dengan hidup doa, matiraga, dan juga aksi karitatif serta membaktikan dirinya kepada Tuhan. Pengalaman pahitnya harus berurusan dengan Inkuisisi Spanyol membuat dirinya berkeputusan menempuh studi lanjut untuk menjadi seorang imam.

Sebagai seorang mahasiswa di Paris, Ignatius rupanya cukup memikat beberapa rekan dalam lingkarang persahabatannya. Mereka pun cukup terlibat aktif dalam hidup doa dan olah rohani berdasarkan Latihan Rohani yang dikembangkan Ignatius. Setelah menyelesaikan studinya, para Jesuit pertama ini ditahbiskan menjadi Imam di Venice and mempersembahkan diri mereka kepada Paus Paulus III. Pada tahun 1540, Paus Paulus III mensahkan Formula Institusi Serikat Yesus yang menandai awal resmi berdirinya Serikat Yesus. Ignatius lalu dipilih menjadi pemimpin pertama, sebagai Superior Jendral sampai dengan akhir hayatnya pada tahun 1556 dalam usia 65 tahun.

Pendidikan Para Jesuit

Seseorang dapat dikatakan menjadi seorang Jesuit bila setelah menyelesaikan dua tahun novisiat lalu mengikrarkan kaul pertamanya: kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.

Masa-masa setelah masa novisiat diwarnai dengan program pendidikan yang bervariasi dan cukup rigor, dalam rangka mempersiapkan diri untuk terjun dalam tugas pelayanan yang beranekaragam. Lebih jauh tentang hal ini silakan kunjungi website Provinsi Indonesia Serikat Yesus atau website Serikat Yesus Internasional

Apa Yang Dikerjakan Para Jesuit?

Para Jesuit bekerja di paroki, pelayanan retret, sekolah dan universitas. Mereka ada juga yang bekerja sebagai ahli hukum, psikolog, konselor, ilmuwan, peneliti, penulis buku, teolog dan filsuf.

Singkatnya, pada Jesuit mengerjakan banyak hal di aneka bidang. Misi mereka dimanapun adalah mewartakan iman akan Yesus Kristus dan memperjuangkan keadilan yang merupakan tuntutan dasar dari iman yang dihayati tersebut. Para Jesuit selalu berusaha untuk mewujudkan Kerajaan Allah, Citra Allah, Kasih Allah menjadi nyata dan dialami oleh semakin banyak orang jaman ini. Mereka adalah orang-orang dengan satu tujuan: Mewartakan kebaikan kepada dunia.

Sejarah Jesuit Terus Berjalan

Selama lebih dari 450 tahun para Jesuit mengalami perjuangan dan pengalaman hidup yang menakjubkan dalam karya mereka mewartakan kabar gembira. Selama masa itulah mereka juga banyak melayani orang lain lewat cara-cara baru dan juga mengejutkan.

Kami adalah orang yang selalu bergerak, kami siap berpindah tempat, siap berganti pekerjaan dan juga cara bekerja- sejauh dapat mengembangkan dan berguna bagi pelayanan kepada Gereja dan dunia. Kami selalu siap untuk mengerjakan segala sesuatu dan pergi kemanapun untuk mewartakan Kristus dan kabar gembiraNya dalam berbagai macam cara dan sarana.

Sekarang ini, kami para Jesuit juga merangkul siapa saja laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama berbagi visi dan berjuang bersama mewartakan iman dan keadilan. Para Jesuit dan rekan awam di hadapan Tuhan Allah sendiri merenungkan pertanyaan penting dari Latihan Rohani Santo Ignatius sebagaimana diungkapkannya kepada para Jesuit pertama ketika bertumbuh bersama dalam hidup doa dan persahabatan mereka: Apa yang sudah aku perbuat untuk Kristus? Apa yang sedang saya perbuat untuk Kristus? Apa yang akan saya perbuat untuk Kristus?


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Jumat, 06 Juli 2007

Finding God in All Things

Sebelum mendirikan Serikat Yesus (Jesuits), Santo Ignatius Loyola adalah seorang perwira perang. Titik balik dalam hidupnya terjadi pada tahun 1521 ketika dia berada dalam perawatan intensif di Puri Loyola (Spanyol Utara) akibat luka parah yang didapatnya dalam medan peran di Pamplona. Bulan-bulan penyembuhannya rupanya tidak hanya menyembuhkan luka fisik yang didapatnya tetapi juga juga "menyembuhkan" jiwanya. Pertobatan dan juga awal hidup rohani serta pengalaman mistiknya bertitik tolak dari peristiwa ini. St. Ignatius dengan tekun mencatat pengalaman pertobatannya ini serta refleksi pergulatannya dalam membangun hidup rohani ini lewat surat-surat yang ditulisnya, otobiografi dan juga Buku Latihan Rohani. Catatan-catatan inilah yang akhirnya menjadi Dasar dari Spiritualitas Ignasian.

Spiritualitas ignasian ini adalah spiritualitas yang berakar pada kesadaran manusia akan apa yang terjadi dalam hidupnya dalam perspektif relasional dengan Tuhan-“Menemukan Tuhan dalam segala”-. Dengan menyadari apa yang terjadi dalam hidup, kita diajak untuk menimbang kemana roh baik dan roh jahat membawa kita dalam keseharian hidup. Kemampuan untuk membedakan roh inilah yang akan semakin membuat kita dapat mengenali dan menemukan kehendak Tuhan dalam diri kita. Artinya, kita semakin sadar akan kehadiran Tuhan dalam diri kita, mencari kehendakNya daripada melulu menuruti keinginan diri pribadi.

Pemahaman terhadap Spiritualitas Ignasian tidak dapat dilepaskan dari pemahaman kita akan pengalaman mistik Santo Ignatius sendiri. Pengalaman mistik St.Ignatius adalah pengalaman mistik yang berpusat pada relasi yang sangat personal dengan Allah sendiri. Pengalaman mistiknya terhadap Tritunggal Mahakudus dan Yesus yang memanggul salib merupakan sesuatu yang fundamental dalam spiritualitas Ignasian. Dalam pengalaman mistik yang demikian ini Santo Ignatius mengalami bahwa Allah adalah Allah yang terus berkarya dan bekerja dalam dunia dan dalam hidup setiap orang. Pengalaman mistik Santo Ignatius membuat dirinya terpanggil untuk bersama Allah sendiri turut serta dalam KaryaNya. Inilah sebabnya, mencari kehendak Allah menjadi hal yang sangat fundamental dalam spiritualitas Ignasian: Apa yang telah saya perbuat untuk Allah, Apa yang saya sedang buat untukNya dan Apa yang akan saya lakukan demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar?.

Tentunya spiritualitas Ignasian ini tidak hanya melulu dan terbatas pada soal doa berdoa atau melulu soal kesalehan. Spiritualitas Ignasian menjadi sangat applikatif dalam banyak bidang seperti pendidikan, pembinaan iman, pembinaan generasi muda, manajemen, kepemimpinan. Secara lebih spesifik, spiritualitas Ignasian ini dapat dilihat dalam cara hidup para Jesuit seperti tercantum dalam Konstitusi Serikat Yesus yang tentunya dalam penulisannya sungguh-sungguh dijiwai oleh semangat Latihan Rohani St. Ignatius sendiri.

Apakah Spiritualitas Ignasian ini relevan buat kaum awam? Tentunya sangat relevan. Hidup dalam rutinitas ataupun “jebakan-jebakan” gaya hidup dewasa ini sangat memungkinkan orang tersesat dan lupa akan kedalaman hidup dan perspektif iman dalam hidup sehari-hari. Tak jarang kita menemukan diri kita “hilang arah” dan larut dalam kesibukan sehari-hari dan lupa akan nilai-nilai hidup yang mendasar. Spiritualitas Ignasian tentunya akan membantu kita untuk menemukan arah hidup dan lebih penting lagi menemukan “jejak kaki” Tuhan dan kehendakNya dalam diri kita.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy