Tampilkan postingan dengan label Church. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Church. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Biar Anak-Anak dan Yang Lemah Datang Padaku?

Entah mengapa di masa prapaska, kasus-kasus pelecehan seksual di Gereja Amerika kembali mencuat. Kalau membaca beritanya (saya kutip di bawah), saya menjadi semakin yakin bahwa memang Hierarki Gereja dan juga kita semua itu perlu untuk semakin belajar rendah hati, belajar terbuka mengakui kesalahan dan melindungi mereka yang lemah. Tanpa keteladanan sikap yang demikian, kredibilitas Gereja menjadi semakin rapuh, dan kredibilitas para imamnya akan diragukan oleh semakin banyak orang. Tidak sedikit pastor di Indonesia yang menganggap soal pelecehan seksual di Gereja Amerika tidak akan ada di Gereja Indonesia. Saya pribadi justru beberapa kali mengetahui dan melihat bahwa pattern/pola yang dilakukan pimpinan Gereja/ordo/tarekat religius di Indonesia kok ya ada yang sama dengan "modus" yang terjadi di Amerika ini. Apakah soal ini menjadi soal yang institusional di dalam Gereja Katolik?


Mungkin masa prapaska menjadi masa yang tepat untuk kembali belajar rendah hati dari kasus-kasus skandal yang di minggu-minggu ini kembali mencuat di Amerika. Mawas diri tentu penting. Tidak ada salahnya berkaca pada apa yang terjadi pada Gereja Katolik di tempat lain.


Satu yang mengejutkan adalah bahwa pelaku pelecehan salah satunya pernah menjadi pembimbing rohani dan pembimbing retret Mother Teresa dan kelompok suster cinta kasih.


Semoga Gereja Katolik terus menjadi Gereja yang bertobat, berani membela dan memperjuangkan kejujuran dan kebenaran, sekalipun seringkali menyakitkan. Kalau tidak demikian, saya yakin semakin sedikit anak-anak dan yang lemah akan datang kepadanya.


Cerita/beritanya ada di bawah ini:


Beberapa minggu lalu, publik dan Gereja Katolik di Philadelphia dikejutkan dengan adanya fakta bahwa beberapa imam-imam diosesan yang tersangkut kasus-kasus pelecehan (sexual abuse/misconduct) ini ternyata masih dibiarkan bebas berkarya. Mengapa mengejutkan? Karena setelah gonjang-ganjing kasus pelecehan seksual di Gereja Amerika di awal era tahun 2000, sudah ada kesepakatan di antara para uskup (Dallas Charter), sesuai arahan vatikan bahwa hal semacam ini (membiarkan para abuser berkarya dan "berkeliaran") tidak akan terjadi lagi.


Tidak lama kemudian, ada berita mengejutkan lagi. Serikat Yesus Provinsi Oregon di Amerika Serikat menyetujui untuk pembayaran settlement/ganti rugi sebesar 166 juta dolar atau setara dengan 1,5 trilyun rupiah kepada sekitar 500 kasus pelecehan kepada kelompok umat katolik terpencil di Alaska dan kawasan penduduk Indian. Uang 1,5 trilyun itu kalau di Jakarta bisa membangun 150 gedung gereja baru (pengandaiannya 1 gereja butuh 10 milyar), atau bisa membangun dan memberi investasi pada 100 sekolah katolik sejumlah 15 milyar/sekolah, atau 1000 sekolah katolik sejumlah 1,5 milyar/sekolah (luar biasa bukan!!). Setelah kasus Oregon dengan jumlah settlement yang fantastis, berikutnya ada berita skandal "baru" lagi dari SJ Provinsi Chicago. Banyak media menyoroti kasus ini termasuk media milik Jesuit (misalnya America Magazine), media katolik (National Catholic Reporter) dan seperti biasa media sekuler The New York Times.


Kalau membaca berita di bawah ini, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mengapa? Mungkin bisa saya sebutkan di sini poin beritanya:

1. Pimpinan Jesuit Provinsi Chicago dinilai “menganggap sepi” banyaknya laporan yang masuk ke provinsialat tentang adanya perilaku aneh dan menyimpang dari seorang Jesuit yaitu Pater McGuire. Laporan pertama mengenai hal ini terjadi medio 1960-an dan hampir selama 40 tahun tidak ada tindakan signifikan terhadap laporan-laporan ini. Sudah sejak awal tahbisan sudah ada surat/laporan dari seorang Pastor Austria tentang perilaku aneh Pater McGuire ketika studi di eropa, dan daftar laporan semacam ini semakin panjang selama 40 tahun.

2. Dia punya kebiasaan bergaul dekat dengan remaja laki-laki, mengajaknya pergi dan tidur bersama di kamarnya

3. Menarik juga bahwa di tahun 60an-70an Pater McGuire pernah dilarang terlibat di pendidikan oleh beberapa sekolah Jesuit, akibat perilakunya yang sering mengajak beberapa siswa untuk tidur di kamarnya.

4. Dilarang bekerja di sekolah, justru membuatnya menjadi Pembimbing Retret terkenal untuk retret 8 hari di banyak tempat, bahkan di kalangan Serikat beliau dikenal sebagai "master" pembimbing retret.

5. Hebatnya lagi: Dia pernah menjadi pembimbing rohani MOTHER TERESA di tahun 1980an . Dia diserahi kepercayaan oleh Mother Teresa untuk membimbing retret para suster Cinta Kasih di seluruh dunia, berkeliling memberi retret kepada mereka di banyak negara.

6. Pernah dituduh melakukan pelecehan terhadap 15 anak, dan tuduhan ini memaksa Provinsial memindahkannya, namun dengan alasan bahwa dia dipindah untuk sabatikal dan bukan karena kasus pelecehan

7. Pernah dilarang oleh Provinsial untuk melakukan perjalanan ditemani oleh anak-anak tetapi aturan ini dengan nekad dilanggarnya

8. Baru pada tahun 1993 (berarti sekitar 30 tahun dari adanya laporan pertama) dia dikirim untuk pemeriksaan dan penanganan psikologis selama 6 bulan. Di minggu2 terakhir, beliau diijinkan memberi retret dan gilanya dia melakukan pelecehan kepada anak-anak pada saat itu.

9. Tahun 1998, Provinsial Chicago menerbitkan surat bahwa tidak ada halangan apapun bagi Pater McGuire untuk melakukan pelayanan umat dan tidak ada bukti bahwa dia memiliki masalah pedophilia.

10. Tahun 2002, karena semakin banyaknya laporan, akhirnya Pater McGuire dibatasi pelayanannya sebagai imam. Akhirnya pada tahun 2008 beliau dibebastugaskan dari tugasnya sebagai imam sebagai kelanjutan dari proses hukum kasus-kasus tersebut.


======================================

Suit Says Jesuits Ignored Warnings About Priest

By ERIK ECKHOLM


http://www.nytimes.com/2011/03/29/us/29jesuit.html

baca juga: http://www.americamagazine.org/blog/entry.cfm?blog_id=2&entry_id=4067


Jesuit leaders in Chicago largely ignored or kept secret numerous reports, spanning four decades, that a prominent priest was sexually abusing teenage boys, lawyers for victims charged on Monday in a motion for punitive damages in a Chicago court.

Included in the motion were more than 65 recently obtained church documents and depositions that, the lawyers said, demonstrated “a reckless disregard for the safety of others in the face of repeated reports of sexual misconduct” on the part of Chicago Jesuit leaders.


The former priest, Donald J. McGuire, now 80, was convicted on several counts of sex abuse in state and federal courts in 2006 and 2008, and is serving a 25-year federal sentence.


The newly public documents date from the early 1960s, when a concerned Austrian priest, in imperfect English, first observed in a letter to Chicago Jesuits that Father McGuire, newly ordained and studying in Europe, had “much relations with several boys.” The reports extend into the last decade, when Father McGuire reportedly ignored admonitions to stop traveling with young assistants, molesting one as late as 2003, as law enforcement was closing in. The legal motion argues that Father McGuire’s superiors in Chicago turned “a blind eye to his criminal actions.”


The current case started with a civil suit brought by six men who say they were victims. Three have since settled with the Jesuits, but three others, identified as John Doe 117, John Doe 118 and John Doe 129, are still pursuing the suit against the Chicago Province of the Society of Jesus and Mr. McGuire. Most of the newly released documents were obtained in the discovery process for the suit: letters and memos the church was required to produce from its files, and transcripts of depositions.


The motion filed on Monday asks the Cook County Circuit Court to take the unusual step of considering additional, punitive damages, given what the motion says is the evidence of a long trail of credible warnings about the priest’s behavior and ineffective responses by church officials.


Terence McKiernan, president of BishopAccountability.org, a victim advocacy group that has long monitored the church’s response to sexual abuse charges, said that the series of warnings given to Jesuit leaders by parents and fellow priests was unusually long and clear.


“I have never seen such detailed and frequent notice received by the priest’s superiors, so many ‘directives’ regarding the priest’s future behavior, and so much evidence presented to his superiors that those directives were being violated, without the priest being removed from ministry,” Mr. McKiernan said.


His group has posted a history of the case and many of the key documents.

Mariah E. Moran, a lawyer for the Chicago Province, said she could not comment on the motion because she had not had a chance to study it, and a spokesman for the province did not respond to requests for comment. In depositions and settlement meetings over the last three years, senior Jesuit officials have said that until recent years they had not heard firm-enough evidence of sexual abuse to justify stronger action against Father McGuire.


Last week, the Jesuits’ Oregon Province agreed to pay $166 million to hundreds of victims of sexual abuse, which occurred decades ago at remote Indian boarding schools. The two cases shed rare light on how religious orders have dealt with charges of sexual abuse, as opposed to the Catholic dioceses and bishops at the center of most recent scandals. The Jesuits are the world’s largest Roman Catholic religious order.


The motion filed on Monday charges that the church misled prosecutors in 2006, with its lawyers claiming that they had little information about the priest — despite the lengthy record of complaints.


The case has been acutely troublesome for the Jesuits, an order known for its scholarship and its elite high schools and universities. Father McGuire was by all accounts a mesmerizing teacher, and after he was barred by some Jesuit schools in the 1960s and 1970s for suspicious behavior, including having students share his bedroom, he went on to became a popular leader of eight-day spiritual retreats around the country and the world.


For about two decades, starting in the early 1980s, he was a spiritual adviser to Mother Teresa, who put him in charge of retreats for the nuns in her worldwide order, Missionaries of Charity. Several times each year, in India, the United States, Russia and other countries, he led retreats for the sisters.


In these travels he routinely took along a teenage boy as an assistant, saying he needed help administering his diabetes treatment. In complaints voiced by some parents and priests at the time, and in later depositions, those assistants said their duties often included sleeping in the same bed as Father McGuire, showering and reading pornography together, providing intimate massages and watching him masturbate.


The Jesuits have their own administrative structure, with a leader in Rome and regional provinces in the United States, although they also operate with permission from local bishops.


On his return from Europe in the 1960s, Father McGuire was assigned to live and teach at Loyola Academy, a high school in Wilmette, Ill. Two boys stayed with him in his room for about two years each, where he constantly abused them, according to the 2006 trial.


In 1969 the second of those boys, then 15, ran away and described the abuse to his parish priest, who contacted the Jesuit president of the academy. The school responded by removing Father McGuire, but, according to a letter released on Monday, publicly described his departure as a “sabbatical.”


In 1991, in another of the many warnings revealed on Monday, the director of a retreat house in California reported to the Chicago Province’s leader that Father McGuire was traveling with a teenage boy from Alaska and sharing a bed with him, and that the boy’s mother had expressed her concern that “her son has in some way changed.”


That year, the Chicago Province’s leader, the Rev. Robert A. Wild, imposed the first set of “guidelines” on Father McGuire. In written instructions he said: “I ask that you not travel on any overnight trip with any boy or girl under the age of 18 and preferably even under the age of 21.” But Father McGuire was left to police himself, and Father Wild said in a 2009 deposition that he had regarded the case as “a serious matter” but also “ambiguous.”


The province sent Father McGuire in 1993 for a psychiatric examination and six months at a treatment center — but in the week before he was to report for the evaluation, he was allowed to conduct a retreat in Phoenix, where he molested another boy, the documents indicate.


As late as 1998, the new documents show, the Chicago provincial wrote a letter of “good standing” for Father McGuire to allow him to minister in a diocese, stating that “there is nothing to our knowledge in his background which would restrict any ministry with minors.”


As the reports of abuse accumulated, the Chicago leaders issued one set of restrictions after another on Father McGuire, finally, in 2002, saying he could minister only to nuns in the Chicago region. But none of these directives were enforced, the court motion asserts.


Father McGuire was formally removed from the priesthood in February 2008 after a conviction in Wisconsin and after a federal indictment had been issued in Illinois.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Selasa, 29 Maret 2011

Protes Nuklir, 2 Pastor Uzur Dihukum Penjara

Pastor dihukum penjara? nampaknya bukan berita baru. Tetapi kalau ada 2 Jesuit uzur (61 dan 82 tahun) dihukum penjara karena aksi demo-nya, tentu menjadi berita yang menarik. Pater Stephen Kelly (61) dan Pater Bill Bichsel (82) dijatuhi hukuman penjara dan kurungan rumah akibat merusak pagar dan melakukan demo anti senjata nuklir di sebuah Pangkalan Angkatan Laut di Amerika Serikat. Mereka tidak sendirian, tetapi ditemani oleh "partners in crime" mereka, 3 perempuan yang sudah uzur juga yaitu seorang suster, pensiunan guru dan seorang pekerja sosial. Mereka dijatuhi pidana kurungan antara 6-15 bulan.

Semangat, idealisme dan kenekatan mereka bisa kita acungi jempol. Di usia tua tetap berjuang menyuarakan protes mereka.

---------------------------------------

TACOMA -- Two Jesuit priests, a nun, a retired teacher and a social worker who cut through fences at Naval Base Kitsap-Bangor over a year ago to protest nuclear weapons were each sentenced to prison Monday.

Jesuit priest Stephen Kelly, 61, of Oakland, Calif. and retired teacher Susan Crane, 67, of Baltimore, were given 15-month sentences, while social worker Lynne Greenwald, 61, of Tacoma, was given a 6-month prison sentence.

The judge gave lighter sentences to the two protesters who were over 80 years old. Jesuit priest Bill Bichsel, 82, of Tacoma, was sentenced to three months in prison and three months of home monitoring, while sister Anne Montgomery, 84, of Redwood City, Calif, was sentenced to two months in prison and four months home electronic monitoring.

U.S. District Court Judge Benjamin Settle ordered Father Kelly taken to prison immediately. Settle was going to allow the others to report to prison next month, but they told the judge they might not show up, so Settle ordered that they be taken to prison immediately, too.

"I'm old enough to know that nuclear weapons are wrong," Crane said. "I'm old enough to have a grandchild and believe that all life is precious."

The five protesters were convicted in December of conspiracy, trespassing and destruction of government property for the Nov. 2, 2009 incident at the submarine base along Hood Canal.

Court documents say the group cut through fences to reach an area near where nuclear warheads are stored in bunkers. The weapons facility in Puget Sound assembles and maintains nuclear-tipped Trident missiles and other weapons.

The protesters put up banners, scattered sunflower seeds and prayed until they were arrested.

The five defendants said nuclear warheads stored and on submarines at the base are illegal under international, national and humanitarian law, but a judge prohibited them from using international law and the lethality of nuclear weapons as a defense. The trial hinged on straightforward charges relating to trespassing and property damage.

Kelly said in court they knew they were breaking a federal law to uphold an even higher law, and they need to shield people from these weapons of death.

Settle said he had to uphold the law, and sentenced the five to several months of federal prison time.

"The judge found that this was essentially anarchy," said Assistant U.S. Attorney Arlen Storm. "And if everyone behaved in this manner, society could not function."

Kelly told KOMO Newsradio before the sentencing that he was prepared to go to prison.

"I think it's really worth it," he said. "I have the solace of my conscience, as I think this is just one little step against nuclear weapons and someday we'll be free, and maybe not in my lifetime, but I have hope."

Montgomery said in a sentencing document filed last week that she and others have taken responsibility for their actions.

About 250 demonstrators gathered outside the federal courthouse during the sentencing.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Selasa, 04 Mei 2010

Skandal Kejujuran Gereja

Munculnya kembali pemberitaan kasus-kasus pelecehan seksual oleh beberapa imam Gereja Katolik yang dimuat oleh media massa internasional beberapa minggu terakhir ini semakin memberi indikasi bahwa ada masalah yang sungguh serius dan perlu segera dibenahi oleh Gereja Katolik dalam hal penanganan kasus pelecehan seksual. Mulai menyeruaknya beberapa kasus besar di daratan eropa seperti di Irlandia, Jerman dan Denmark rupanya semakin menguatkan dugaan bahwa tidak sedikit kasus pelecehan seksual yang tidak diselesaikan dengan penuh keadilan, dan rupanya kasus semacam ini bukanlah melulu monopoli Gereja Katolik di Amerika Serikat. Ada kemungkinan bahwa masalah ini merupakan masalah yang lebih umum di dalam Gereja Katolik universal.

Paul Moses, seorang professor jurnalistik dan penulis senior dalam bidang keagamaan mengamati bahwa antuasiasme media massa dalam mengungkapkan berbagai kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik terletak pada keingintahuan media tentang sejauh mana bisa ditemukan adanya konspirasi untuk menutupi kasus tersebut secara institusional, dan sejauh mana Gereja telah menindak pelaku kejahatan seksual yang dilakukan beberapa imamnya (dotCommonweal, 29 Maret 2010). Sejak merebaknya berbagai kasus skandal pelecehan seksual dalam Gereja Katolik tahun 2002 di Amerika Serikat, kalangan media selalu menemukan adanya pola-pola kecenderungan dari petinggi Gereja di berbagai keuskupan untuk tidak melakukan pengawasan dan tindakan tegas dan tepat bagi imamnya yang melakukan kejahatan ini. Ini terlihat dari fakta bahwa pelaku pelecehan seksual ternyata masih bebas “memangsa” korban-korbannya di tempat lain setelah mereka dipindahkan. Di sisi lain media menduga adanya kesengajaan dari pihak petinggi Gereja untuk menutupi kasus-kasus ini dengan motif untuk melindungi nama baik Gereja dan asset finansialnya. Bagi media, berita konspirasi dan “cover-up” yang dilakukan institusi sebesar Gereja Katolik inilah yang menjadi sebab mengapa kasus-kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik selalu menjadi “makanan empuk” liputan pemberitaan media-media sekuler.
***
Di sisi lain, sebagian kalangan Gereja Katolik seringkali menuduh bahwa berita-berita pelecehan seksual yang dimuat di banyak media sekuler lebih merupakan rekayasa pemberitaan yang berlebihan dan memiliki motif kampanye hitam untuk mendiskreditkan Gereja Katolik. Media menjadi kambing hitam yang dituduh tidak profesional dan diperalat oleh para pengacara atas motif finansial, dan dimanipulasi oleh organisasi yang berseberangan dengan Gereja atas motif politik, untuk tujuan mendelegitimasi otoritas Gereja Katolik di dalam perdebatan isu-isu moral di tengah publik. Uskup Nicholas DiMarzio, dari Keuskupan Brooklyn, New York misalnya bahkan sampai menyerukan kepada para imam dan umatnya untuk tidak lagi berlangganan harian New York Times. Himbauan ini disampaikan di dalam homili pada misa pembaharuan janji imamat para pastor, sebagai sebuah bentuk protes keras kepada harian tersebut yang dinilai telah melakukan kampanye terorganisir untuk mendiskreditkan Gereja Katolik dan para imamnya. New York Times selama dua minggu berkesinambungan telah menurunkan artikel-artikel yang mengungkap adanya skandal pelecehan seksual yang serius di dalam Gereja Katolik di Amerika dan Eropa. Lebih jauh bahkan DiMarzio secara eksplisit menyebutkan New York Times sebagai musuh Gereja. Masih menanggapi hal yang sama, George Weigel menyebutkan bahwa tudingan-tudingan dari New York Times adalah produk dari jurnalisme murahan (First Things, 29 Maret 2010). Weigel dengan tegas serta defensif menyatakan bahwa tidak ada institusi manapun di dunia ini, berkaitan dengan kasus pelecehan seksual, yang secara transparan mengakui kesalahannya di masa lalu dan memperbaikinya selain institusi Gereja Katolik.

Namun di balik segala ketidakakuratan ataupun subyektivitas yang dituduhkan kepada media, dari waktu ke waktu media telah berperan di dalam menunjukkan sesuatu yang esensial dan penting untuk disoroti dalam penanganan kasus pelecehan seksual oleh para imam Gereja Katolik, yaitu adanya kultur klerikalisme. Kultur klerikalisme ini selalu cenderung untuk mempertahankan nama baik dan kuasa institusi atau kelompok klerus dalam Gereja Katolik. Kultur klerikalisme inilah yang dinilai menjadi penyebab munculnya konspirasi untuk menutupi banyak kasus pelecehan seksual dan tidak menyelesaikannya secara adil dan tepat demi para korban. Poin inilah yang harusnya menjadi fokus perhatian setiap kalangan Gereja Katolik, bahwa para korban tidak mendapatkan perlakuan yang baik dan perlindungan serta keadilan. Hak-hak mereka cenderung dikesampingkan oleh petinggi Gereja yang memiliki otoritas dalam menangani kasus pelecehan yang terjadi. Media massa mungkin saja memiliki banyak kepentingan dan sikap bias dalam memberitakan kasus-kasus tersebut, namun terlalu berfokus dan bersikap reaktif kepada media justru menunjukkan sikap Gereja yang sangat defensif, yang pada akhirnya akan dinilai oleh para korban sebagai sikap arogan dan tidak solider kepada mereka.

National Review Board, sebuah komisi yang dibentuk oleh Konferensi para Uskup di Amerika Serikat dan yang terdiri dari para awam untuk meneliti dan menyelidiki berbagai hal yang berkaitan dengan kasus-kasus pelecehan seksual menemukan beberapa indikasi yang menguatkan adanya kultur klerikalisme (cf. John Jay Report). Pertama, banyak para uskup di dalam menangani kasus-kasus pelecehan seksual ternyata cenderung untuk berusaha menyembunyikan skandal ini dari perhatian dan sorotan umat dengan motif yang disebut “melindungi” iman umat. Sebagian uskup masih kuatir bahwa skandal yang terjadi akan mempengaruhi iman umat dan pada akhirnya dianggap membahayakan komunitas Gereja dan kredibilitas kaum klerus. Kedua, di dalam menghadapi kasus-kasus skandal pelecehan, sebagian uskup lebih memprioritaskan seberapa besar kerugian finansial yang akan terjadi dan berusaha sekuat tenaga untuk meminimalisir potensi kerugian. Kerugian yang besar akan menjadi pukulan telak buat pelayanan Gereja dalam bidang pewartaan, pendidikan, kesehatan dan pelayanan Gereja lainnya. Ketiga, para uskup cenderung lebih melindungi nama baik keuskupannya dengan melindungi para imam yang menjadi pelaku pelecehan seksual. Tindakan uskup yang demikian sebenarnya melupakan peranannya sebagai gembala umat yang harusnya berdiri melindungi dan mengayomi umat beriman di wilayah keuskupannya, bukan malah mengorbankannya demi sebuah nama baik institusi dan klerus.
***
Dalam konteks Indonesia, mungkin kasus-kasus pelecehan seksual oleh imam Gereja Katolik belumlah seheboh dan sedahsyat dengan pemberitaan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Namun seperti dikatakan David Clohessy, pendiri jejaring para korban pelecehan oleh para imam (SNAP), krisis sebagaimana terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, dalam beberapa dekade mendatang diprediksi akan menjadi masalah global Gereja Katolik secara sporadis (National Catholic Reporter, 11 Maret 2010). Clohessy berpendapat bahwa konspirasi dan “cover-up” justru sangat rentan terjadi di negara-negara berkembang, di tempat dimana kesenjangan peran dan kuasa antara kaum klerus dan umat di dalam penyelenggaraan reksa pastoral Gereja masih sangat terbentang lebar, dan masih tingginya ketergantungan ekonomi umat kepada pejabat Gereja Katolik. Seiring dengan semakin kuatnya kesadaran hukum, dan juga peran media yang agresif, diprediksi kasus-kasus skandal ini akan muncul ke permukaan bagai bom waktu untuk masa depan bagi Gereja Katolik di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri bukan tidak mungkin bahwa kasus pelecehan seksual yang sedang masuk dalam pemeriksaan proses hukum yang menimpa Anand Khrisna baru-baru ini bisa menjadi sebuah “trigger” untuk kasus-kasus serupa yang dilakukan tokoh-tokoh spiritual ataupun pemuka agama tak terkecuali kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan imam Gereja Katolik, lengkap dengan semua hiruk pikuk media baik cetak maupun televisi.

Apa yang bisa dipetik dari kasus skandal pelecehan seksual di Amerika Serikat dan Eropa adalah pentingnya pihak Gereja, dalam hal ini para uskup dan pembantunya serta pimpinan ordo/tarekat religius untuk mau bersikap jujur dan sungguh mencari kebenaran dalam situasi apapun di atas segala-galanya serta solider dan melindungi para korban di dalam menangani kasus-kasus pelecehan seksual. Mereka hendaknya tidak melupakan perannya sebagai gembala umat ketimbang sebagai pejabat Gereja. Para uskup dan pimpinan ordo/tarekat religius sepatutnya menjadi teladan bagaimana keutamaan kristiani untuk rendah hati mengakui kesalahan, menyesal dan meminta maaf serta solider terhadap para korban sungguh diekspresikan secara nyata. Mungkin apa yang dibuat oleh para Jesuit di Kolese Kanisius di Berlin dapat menjadi refleksi kita bersama. Ketika tujuh kasus pelecehan seksual yang diduga terjadi selama beberapa tahun di kolese tersebut merebak ke publik, para Jesuit lantas mengangkat seorang pengacara perempuan untuk menangani kasusnya secara teliti dan terbuka. Mereka pun menghubungi para alumni untuk meminta bantuan agar para korban lain yang selama ini diam mau untuk muncul melaporkan kasus pelecehan yang dialami. Apa hasilnya? Paling tidak ada sekitar lebih dari seratusan korban melaporkan kasus pelecehan di sekolah tersebut. Dari sinilah terbongkar adanya sikap pasif dan pembiaran yang dilakukan beberapa superior Jesuit selama beberapa dekade terhadap kasus pelecehan seksual yang sebenarnya sudah dilaporkan. Pater Stefan Dartmann, Provinsial Jesuit Jerman pun meminta maaf kepada para korban atas keteledoran superior-superior terdahulu yang membiarkan kasus ini tidak terselesaikan. Walaupun memalukan dan dinilai oleh sebagian orang sebagai tindakan yang bodoh, namun demikian sikap jujur dan terbuka yang dilakukan Kolese Kanisius di Berlin untuk mencari kebenaran sungguh mencerminkan sikap moral kristiani yang sejati. Kejujuran dan kerendahan hati inilah yang banyak orang ingin melihatnya dari Gereja Katolik di tengah hiruk pikuk skandal seksual yang menimpanya.

Augustinus Widyaputranto
(artikel ini dimuat di Majalah Hidup edisi 18 April 2010)


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy

Sabtu, 26 Juli 2008

A Day In The Life of Pope Benedict XVI

Pernah membayangkan bagaimanakah kegiatan Bapa Suci sehari-hari, atau membayangkan seperti apa ruangan di apartemen Kepausan di Vatikan? Silakan simak video clip yang satu ini.


Bookmark Artikel Ini:
Digg Technorati del.icio.us Stumbleupon Google Share on Facebook! Reddit Blinklist Furl Spurl Yahoo Simpy